Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

Austria Cabut Lockdown untuk Penduduk yang tidak Divaksinasi

Kamis 27 Jan 2022 03:10 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

Kanselir Austria Karl Nehammer

Kanselir Austria Karl Nehammer

Foto: AP/Johanna Geron/Pool Reuters
Pencabutan lockdown karena tidak ada peningkatan pasien di ICU rumah sakit.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN - Austria akan mengakhiri penguncian atau lockdown bagi penduduk yang tidak divaksinasi pekan depan. Kanselir Austria Karl Nehammer mengatakan, langkah ini diambil karena tidak ada peningkatan pasien di unit perawatan intensif rumah sakit.

"Selama beberapa pekan, kami menerapkan penguncian untuk yang tidak divaksinasi. Ini merupakan kebijakan yang dikeluhkan banyak orang, tetapi itu tidak dapat dihindari untuk alasan kebijakan kesehatan," kata Nehammer.

Pada 1 Februari, mandat vaksin Covid-19 untuk orang dewasa mulai berlaku di Austria.  Para pejabat mengatakan, mandat tersebut diperlukan karena tingkat vaksinasi terlalu rendah. Tujuan lain dari mandat vaksinasi adalah memastikan bahwa rumah sakit Austria tidak kewalahan dengan pasien Covid-19.  Sejauh ini, 75,4 persen penduduk Austria telah divaksinasi lengkap.

"Terlepas dari relaksasi, kehati-hatian masih diperlukan. Saya mengimbau kepada 1,5 juta yang tidak divaksinasi untuk segera melakukan vaksin," kata Nehammer.

Mulai pertengahan Maret, polisi akan mulai memeriksa status vaksinasi masyarakat dalam pemeriksaan rutin. Orang yang tidak dapat menunjukkan bukti vaksinasi akan diberikan peringatan untuk melakukan vaksinasi secara tertulis, atau didenda hingga 600 euro jika mereka tidak melakukannya.

Nehammer mengatakan, apabila pihak berwenang menilai kemajuan vaksinasi masih tidak cukup, maka pemerintah akan mengirim pengingat kepada orang-orang yang tetap tidak divaksinasi. Jika upaya itu tidak berhasil, maka pemerintah akan membuatkan janji untuk vaksinasi.

Namun apabila orang yang bersangkutan tidak hadir vaksinasi sesuai jadwal yang telah ditentukan, maka mereka akan dikenakan denda. Para pejabat berharap mereka tidak perlu menggunakan langkah terakhir untuk mendorong warga melakukan vaksinasi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA