Kamis 01 Oct 2020 20:08 WIB

Prancis dan Rusia Sudutkan Turki?

Prancis dan Rusia serukan gencatan senjata antara Azerbaijan dan Armenia.

Dalam gambar yang diambil dari rekaman yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Azerbaijan pada hari Minggu, 27 September 2020, sebuah roket Azerbaijan diluncurkan dari sistem rudal di garis kontak Republik Nagorno-Karabakh, Azerbaijan yang memproklamirkan diri. Pertempuran antara pasukan Armenia dan Azerbaijan atas wilayah separatis yang disengketakan di Nagorno-Karabakh berlanjut pada Senin pagi setelah meletus sehari sebelumnya, dengan kedua belah pihak saling menyalahkan karena melanjutkan serangan.
Foto: Azerbaijan's Defense Ministry via AP
Dalam gambar yang diambil dari rekaman yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Azerbaijan pada hari Minggu, 27 September 2020, sebuah roket Azerbaijan diluncurkan dari sistem rudal di garis kontak Republik Nagorno-Karabakh, Azerbaijan yang memproklamirkan diri. Pertempuran antara pasukan Armenia dan Azerbaijan atas wilayah separatis yang disengketakan di Nagorno-Karabakh berlanjut pada Senin pagi setelah meletus sehari sebelumnya, dengan kedua belah pihak saling menyalahkan karena melanjutkan serangan.

REPUBLIKA.CO.ID, BAKU -- Pemimpin Rusia dan Prancis telah bertemu untuk membahas pertempuran antara Azerbaijan dan Armenia di Nagoro Karabakh. Dalam pertemuan itu sempat disinggung pengiriman pasukan asing ke daerah konflik.

Kantor Presiden Prancis Emanuel Macron mengatakan, Macron dan Putin berbagi keprihatinan mereka terkait pengiriman tentara bayaran Suriah oleh Turki ke Nagorno-Karabakh.

Baca Juga

Kremlin tidak menyebutkan klaim Macron dan Turki telah membantah mengirim tentara bayaran. Tetapi Rusia yang memiliki pangkalan militer di Armenia, mengatakan pada Rabu bahwa pejuang Suriah dan Libya dari kelompok bersenjata ilegal dikirim ke Nagorno-Karabakh.

Turki, sekutu dekat Azerbaijan yang sebagian besar beragama Islam, telah mengatakan akan melakukan apapun yang diperlukan untuk mendukung Azerbaijan.

Putin dan Macron meningkatkan seruan untuk gencatan senjata segera antara Azerbaijan dan pasukan Armenia pada Kamis (1/10). Jumlah korban tewas akibat pertempuran ini terus  meningkat.

Kremlin mengatakan, Presiden Vladimir Putin dan Presiden Prancis Emmanuel Macron telah membahas langkah-langkah yang dapat diambil oleh kelompok Minsk dari Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama (OSCE), yang menengahi konflik tersebut, untuk mengakhiri pertempuran. Rusia juga telah menawarkan untuk menjadi tuan rumah para menteri luar negeri Armenia dan Azerbaijan untuk pembicaraan tentang mengakhiri pertempuran yang berkobar sejak Ahad (27/9).

Pertempuran ini menghidupkan kembali konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun di daerah kantong pegunungan di wilayah Kaukasus Selatan. Meletusnya kembali konflik sejak runtuhnya Uni Soviet telah menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas di Kaukasus Selatan, koridor pipa yang membawa minyak dan gas ke pasar dunia. Situasi ini juga meningkatkan kekhawatiran bahwa kekuatan regional Rusia dan Turki akan terlibat dalam perang.

"Presiden Macron dan Putin sepakat tentang perlunya upaya bersama untuk mencapai gencatan senjata dalam kerangka Minsk," kata kantor Macron dalam sebuah pernyataan setelah kedua pemimpin itu berbicara melalui telepon Rabu (30/9) malam.

Kremlin mengatakan tidak ada alternatif selain menggunakan "metode politik dan diplomatik" untuk menyelesaikan krisis. Rusia dan Prancis menjadi ketua bersama kelompok Minsk dengan Amerika Serikat. Kelompok tersebut belum bertemu sejak pertempuran terakhir dimulai.

Penembakan

Sementara itu jantor jaksa penuntut umum Azerbaijan mengatakan penembakan oleh Armenia telah menewaskan seorang warga sipil di kota Terter Azeri pada Kamis pagi dan merusak stasiun kereta kota itu.

Juru bicara kementerian pertahanan Armenia mengatakan situasinya tetap tegang dan pasukan Azerbaijan telah mencoba untuk berkumpul kembali. Armenia mengatakan dua warga negara Prancis yang bekerja untuk surat kabar Le Monde Prancis terluka selama penembakan Azeri di kota Martuni di Armenia dan dibawa ke rumah sakit. Sumber pemerintah Armenia mengatakan kondisi mereka sangat parah.

Rekaman televisi yang dirilis oleh Anadolu Agency yang berbasis di Ankara menunjukkan para wartawan berlindung di balik tembok di lokasi tak dikenal di Nagorno-Karabakh.

Puluhan orang telah dilaporkan tewas dan ratusan lainnya luka-luka sejak pertempuran pecah di Nagorno-Karabakh, Ahad, sebuah wilayah di Azerbaijan yang dikelola oleh etnis Armenia.

Konflik pecah dalam perang 1991-1994 yang menewaskan 30 ribu orang. Namun Nagorno-Karabakh tidak diakui secara internasional sebagai republik merdeka.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement