Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

Bergejala Covid-19, Hanya 18 Persen Orang Isolasi Mandiri

Senin 28 Sep 2020 13:46 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Reiny Dwinanda

Anggota polisi berpatroli  saat memantau pembatasan jam operasional  di Soho, London, Inggris, Kamis (24/9). Pemerintah Inggris telah mengumumkan bahwa pub, bar, dan restoran harus tutup pukul 10 malam mulai Kamis (24/9). Pembatasan jam operasional itu diberlakukan untuk membantu mengurangi lonjakan kasus virus corona di Inggris.

Anggota polisi berpatroli saat memantau pembatasan jam operasional di Soho, London, Inggris, Kamis (24/9). Pemerintah Inggris telah mengumumkan bahwa pub, bar, dan restoran harus tutup pukul 10 malam mulai Kamis (24/9). Pembatasan jam operasional itu diberlakukan untuk membantu mengurangi lonjakan kasus virus corona di Inggris.

Foto: EPA-EFE/ANDRE PAIN
Di Inggris, cuma 11 persen orang yang kontak dengan positif Covid-19 isolasi mandiri.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Sebuah studi menunjukkan kurang dari seperlima orang di Inggris yang menunjukkan gejala virus Covid-19 mengikuti aturan dan mengisolasi diri di rumah. Penelitian ini dipimpin oleh King’s College London.

Berdasarkan penelitian itu, mayoritas orang mematuhi pedoman dan tinggal di rumah selama 14 hari. Sebanyak 70 persen dari mereka yang tidak memiliki gejala mengatakan mereka bersedia melakukan isolasi mandiri. Namun, hanya 18 persen orang yang mengalami gejala antara Maret dan Agustus menyebut mereka benar-benar mengisolasi mandiri untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

Sementara 11 persen dari mereka yang melakukan kontak dengan seseorang yang terpapar Covid-19, telah tinggal di rumah selama dua pekan. Masyarakat di Inggris yang menolak perintah untuk mengisolasi mandiri mulai 28 September akan dikenakan denda hingga 10 ribu pound sterling atau sekitar Rp 189 juta.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson mengumumkan kebijakan tersebut pada awal pekan ini. Awalnya denda mulai dari 1.000 pound sterling atau sekitar Rp  18 juta. Tetapi itu akan meningkat untuk pelanggar yang berulang dan masuk kategori "pelanggaran berat".

Layanan Kesehatan Nasional (NHS) berupa tes dan pelacakan telah diberi tahu untuk meningkatkan setiap kecurigaan tentang ketidakpatuhan terhadap aturan isolasi mandiri ke polisi setempat. Para ilmuwan di balik studi isolasi mandiri terhadap lebih dari 31 ribu orang menyarankan agar orang-orang diberikan lebih banyak dukungan finansial untuk tinggal di rumah.

Mereka juga menemukan laki-laki lebih mungkin tidak mengikuti aturan dibandingkan perempuan. Termasuk mereka yang lebih muda, mereka yang memiliki anak, mereka yang berpenghasilan rendah, dan para pekerja esensial.

“Hasil kami menunjukkan bahwa kendala keuangan dan tanggung jawab akan kepedulian menghambat kepatuhan terhadap isolasi mandiri,” kata para peneliti.

Baca Juga

Lebih lanjut, mereka mengatakan bagi para pekerja esensial yang memiliki kebutuhan finansial lebih besar atau merasakan tekanan sosial lebih besar, sangat kecil dapat bekerja dari rumah. Para menteri berharap pembayaran tes NHS dan pelacakan 500 pound sterling atau Rp 9 juta akan memastikan bagi mereka yang berpenghasilan rendah tak perlu khawtir akan kondisi keuangan selama isolasi mandiri.

Direktur Public Health England (PHE), Yvonne Doyle, memohon kepada publik untuk mematuhi peraturan ketat yang diumumkan pada awal pekan ini. Hal ini guna membantu mengendalikan peningkatan kasus yang terjadi.

Jumlah kasus Covid-19 yang dikonfirmasi di laboratorium di empat wilayah naik menjadi 6.634 pada pukul 09.00 pagi Kamis (24/9) lalu. Total jumlah kasus Covid-19 tercatat menjadi 416.363.

"Jelas, kita semua harus mengikuti langkah-langkah baru yang telah diterapkan untuk membantu mengendalikan virus Covid-19," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA