Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

Pasien di Sri Lanka Sekarat karena Pasokan Obat Menipis

Senin 23 May 2022 17:10 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

Selama beberapa bulan, warga Sri Lanka mengalami antrean panjang untuk membeli bahan bakar, gas untuk memasak, makanan dan obat-obatan, yang sebagian besar datang dari luar negeri.

Selama beberapa bulan, warga Sri Lanka mengalami antrean panjang untuk membeli bahan bakar, gas untuk memasak, makanan dan obat-obatan, yang sebagian besar datang dari luar negeri.

Foto: AP Photo/Eranga Jayawardena
Rumah sakit terpaksa menunda prosedur penyelamatan nyawa karena tak punya obat

REPUBLIKA.CO.ID, KOLOMBO -- Kekurangan obat-obatan yang disebabkan oleh krisis ekonomi di Sri Lanka dapat menyebabkan kematian. Rumah sakit terpaksa menunda prosedur penyelamatan nyawa pasien karena mereka tidak memiliki obat-obatan yang diperlukan.

Sri Lanka mengimpor lebih dari 80 persen pasokan medisnya. Kini, obat-obatan penting menghilang dari rak dan sistem perawatan kesehatan hampir runtuh, karena negara kekurangan cadangan mata uang asing untuk membayar impor.

Di rumah sakit kanker Apeksha yang memiliki kapasitas 950 tempat tidur di pinggiran Ibu Kota Kolombo, pasien dan dokter merasa semakin tidak berdaya menghadapi kekurangan pasokan obat-obatan penting. Para tenaga medis terpaksa menghentikan tes dan menunda sejumlah prosedur, termasuk operasi kritis.

"Ini sangat buruk bagi pasien kanker. Kadang-kadang, di pagi hari kami merencanakan beberapa operasi (tetapi) kami mungkin tidak dapat melakukannya pada hari itu, karena (persediaan) tidak ada. Jika situasinya tidak segera membaik, beberapa pasien akan menghadapi kematian," ujar Dr Roshan Amaratunga.

Seorang pejabat pemerintah yang bekerja pada pengadaan pasokan medis, Saman Rathnayake, mengatakan, sekitar 180 item obat-obatan hampir habis. Termasuk suntikan untuk pasien cuci darah, obat untuk pasien yang telah menjalani transplantasi dan obat kanker tertentu.

Rathnayake, mengatakan kepada Reuters bahwa India, Jepang, dan donor multilateral membantu menyediakan pasokan obat-obatan. Tetapi proses pengirimannya bisa memakan waktu hingga empat bulan. Sri Lanka telah meminta donor swasta, di dalam maupun luar negeri untuk mengulurkan bantuan.

Para dokter sangat khawatir dengan kurangnya pasokan obat-obatan, karena mereka sadar bahwa akan ada konsekuensinya. Juru bicara Asosiasi Petugas Medis, Dr. Vasan Ratnasingam,  mengatakan, konsekuensi bagi orang yang menunggu perawatan jauh lebih mengerikan.

“Jika pasien mengantre obat, mereka akan kehilangan nyawanya,” kata Ratnasingam.

Ibu dari Binuli Bimsara, gadis empat tahun yang dirawat karena leukemia, mengatakan, dia dan suaminya khawatir dengan berkurangnya pasokan obat-obatan. Mereka takut anaknya tidak bisa diselamatkan karena pasokan obat-obatan yang sangat terbatas

"Sebelumnya, kami memiliki setidaknya beberapa harapan karena kami memiliki obat, tetapi sekarang kami hidup di bawah ketakutan yang luar biasa. Masa depan kami sangat gelap, ketika kami mendengar tentang kekurangan obat-obatan. Kami tidak punya uang untuk membawa anak kami berobat ke luar negeri," ujar sang ibu.

Pihak berwenang India mengirimkan 25 ton pasokan medis, bersama dengan bantuan lainnya pada Ahad (22/5). "Tidak pernah India membantu negara lain sejauh ini. Kami sangat berterima kasih," kata Menteri Luar Negeri Sri Lanka, G.L. Peiris, di pelabuhan Kolombo saat dia berdiri di dekat sebuah kapal yang membawa ribuan karung persediaan medis.

"Ini mungkin periode paling sulit yang harus dihadapi Sri Lanka sejak kemerdekaan," kata Peiris.

Sri Lanka sedang bergulat dengan krisis ekonomi yang paling menghancurkan sejak kemerdekaan negara itu pada 1948. Krisis ekonomi Sri Lanka disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang menghancurkan sektor pariwisata, kenaikan harga minyak, pemotongan pajak populis dan larangan impor pupuk kimia, yang menghancurkan pertanian.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA