Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Kedubes China: Pompeo Provokasi Hubungan China-Indonesia

Jumat 30 Oct 2020 13:32 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah

 Dalam foto yang dirilis Kementerian Luar Negeri RI, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, kiri, berbicara dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam konferensi pers bersama yang disiarkan secara online di Jakarta, Indonesia, Kamis, 29 Oktober 2020. Pompeo memperbarui retorika serangan balik pemerintahan Trump terhadap China di Indonesia pada hari Kamis ketika pemilihan presiden Amerika mendekat.

Dalam foto yang dirilis Kementerian Luar Negeri RI, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, kiri, berbicara dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam konferensi pers bersama yang disiarkan secara online di Jakarta, Indonesia, Kamis, 29 Oktober 2020. Pompeo memperbarui retorika serangan balik pemerintahan Trump terhadap China di Indonesia pada hari Kamis ketika pemilihan presiden Amerika mendekat.

Foto: AP/Indonesian Ministry of Foreign A
Pompeo dinilai telah melakukan serangan tak berdasar terhadap China.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kedutaan Besar (Kedubes) China untuk Indonesia menyatakan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) telah memprovokasi hubungan China-Indonesia. Pernyataan ini menanggapi kunjungan Pompeo ke Indonesia dan melakukan perbincangan dengan beberapa pihak pada Kamis (29/10).

Pompeo dinilai telah melakukan serangan yang tidak berdasar terhadap China serta telah mengganggu perdamaian dan stabilitas kawasan. Serangan-serangan yang disampaikan Pompeo justru menunjukan intensi buruk dan masalah internal AS.

China berkomitmen untuk membangun kerja sama bersahabat dengan negara-negara lain atas dasar Lima Prinsip Hidup Berdampingan Secara Damai. Kedubes China pun menyatakan, negaranya juga berkomitmen untuk tidak mengekspor ideologinya ataupun mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

"Namun AS justru meluncurkan apa yang disebut 'Perang Dingin Baru', memprovokasi pertentangan ideologi, dan membangkitkan 'revolusi berwarna' di berbagai belahan dunia," ujar pernyataan Kedubes China yang diterima Republika.co.id.

Menurut penilaian China, AS juga secara brutal mengintervensi urusan dalam negeri negara lain, bahkan tidak segan menggunakan perang dan mendatangkan malapetaka bagi dunia. "AS adalah penyebar super 'virus politik'" ujarnya.

Kedubes China pun meminta sejumlah politisi AS harus menghentikan kebijakan keliru yang bermusuhan terhadap Beijing. Mereka juga harus berhenti memprovokasi dan mengintervensi hubungan kerja sama bersahabat antara China dengan negara-negara lain di kawasan.

"Berhenti mengganggu perdamaian dan stabilitas regional, serta berhenti menginjak-injak keadilan internasional. Kalau tidak, semua upaya mereka itu hanya akan berakhir dengan kegagalan total," ujar Kedubes China.

Selain itu, Kedubes China pun menyatakan, AS menjadi penghambat kerja sama keterbukaan dunia. Mereka membandingkan dengan inisiatif "Belt and Road" milik China yang juga melahirkan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Inisiatif itu diklaim mewujudkan keuntungan bagi semua pihak, dengan berlandaskan pada prinsip konsultasi, pembangunan, dan berbagi manfaat bersama. Terlebih lagi prinisp itu didorong dengan keterbukaan, inklusivitas, dan transparansi. "Inisiatif ini telah mendapat tanggapan dan dukungan dari seratus lebih negara dan organisasi internasional," ujar Kedubes China.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA