Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Warganya Ditembak Mati dan Dibakar Korut, Korsel Marah Besar

Jumat 25 Sep 2020 00:03 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Teguh Firmansyah

ketegangan korsel korut

ketegangan korsel korut

Foto: AP Photo/Ahn Young-joon
Korsel meminta pelaku penembakan itu dihukum setimpal.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Seorang pegawai pemerintahan Korea Selatan dilaporkan tewas ditembak oleh militer Korea Utara karena melintasi perbatasan maritim dua negara. Kabar itu disampaikan pejabat tinggi Staf Gabungan Korea Selatan, Letnan Jenderal Ahn Young-ho.

Young-ho mengatakan, seorang pekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan itu hilang di perairan selatan Kepulauan Yeonpyeong pada 21 September 2020. Dia tidak terlihat setelah jarak 1,9 kilometer dari pantai.

Sang pegawai pemerintahan menaiki kapal berkapasitas satu orang dan mengenakan jaket pelampung. Sayangnya, pria yang diperkirakan ingin menyeberang itu pertama kali ditemukan oleh kapal milik organisasi perikanan Korut.

Menurut keterangan salah seorang pejabat Kementerian Pertahanan Korsel, pria itu diinterogasi oleh salah satu awak kapal Korut. Kemudian, sebuah kapal patroli Korut terlihat menembaki warga Korsel itu hingga tewas.  

Selanjutnya, seorang prajurit dengan masker gas dan pakaian pelindung mendekati tubuh tersebut dan membakarnya. Dalam sebuah pernyataan, militer Korsel mengutuk keras kekejaman Korut dan mendesak mereka memberikan penjelasan.

Korsel juga menyerukan hukuman bagi pihak yang bertanggung jawab dalam insiden itu. "Kami dengan tegas memperingatkan bahwa Korea Utara bertanggung jawab atas kekejaman yang dilakukan terhadap warga kami," kata Korsel.

Juru bicara Kementerian Unifikasi Korsel, Yoh Sang-key, mengatakan insiden itu membuat kesabaran dan upaya untuk rekonsiliasi dan perdamaian antar-Korea menjadi terganggu. "Ini bertentangan dengan kerinduan rakyat kami akan perdamaian di Semenanjung Korea," ujarnya.

Ketegangan Korsel dan Korut kian meningkat sejak komunikasi antara kedua belah pihak terputus pada Juni 2020. Pyongyang menutup diri lantas meledakkan kantor penghubung bersama di Kaesong, sebuah kota di sisi utara perbatasan.

Padahal, pemulihan hubungan sudah diupayakan dengan pertemuan bersejarah Presiden Korsel Moon Jae-in dan pemimpin Korut Kim Jong-un. Begitu pula adanya pertemuan antara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump.

Pertemuan tersebut pada akhirnya tidak memberikan hasil yang signifikan bagi semua pihak. Korut justru semakin keras terhadap tetangga selatannya, apalagi sejak saudara perempuan Kim, Kim Yo-jong, punya kuasa lebih dalam rezim.

Laman CNN melaporkan, ini bukan pertama kalinya warga Korsel ditembak karena melintasi perbatasan. Pada 2008, tentara Korut menembak seorang turis Korsel di resor ski Kumgang. Pada 2010, militer Korut juga menewaskan 46 pelaut, dua marinir, dan dua warga sipil Korsel dalam insiden terpisah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA