Sunday, 10 Safar 1442 / 27 September 2020

Sunday, 10 Safar 1442 / 27 September 2020

Di Tengah Ancaman China, Taiwan akan Beli Drone Canggih AS

Jumat 07 Aug 2020 16:11 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Drone. Ilustrasi

Drone. Ilustrasi

Foto: DEFENCE IMAGES
Pesawat pengintai yang mampu terbang 11.100 km ini bisa dipakai untuk intip China.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) sedang menegosiasikan penjualan pertama empat drone canggih ke Taiwan. Hal ini diungkapkan enam pejabat Pemerintah AS yang mengetahui negosiasi tersebut.

Pesawat tanpa awak yang sedang dinegosiasikan ini dapat mengawasi daratan dan lautan sekaligus. Jarak pandang drone pengintai Sea Guardian mencapai 6.000 mil atau 11.100 km, sekitar 160 mil lebih jauh dibandingkan drone yang Taiwan miliki saat ini.

Pesawat tanpa awak tersebut membuat Taiwan memiliki kapasitas lebih dalam mengintip kekuatan China. Mengawasi angkatan darat, laut dan udara Negeri Tirai Bambu.

Sementara itu, pada Jumat (7/8) dua orang dari Departemen Luar Negeri yang memiliki wewenang dalam penjualan drone-drone AS mengatakan belum diketahui kapan AS akan menyetujui ekspor drone tersebut. Pesawat tanpa awak yang dijual dilengkapi senjata.

Ekspor tersebut harus disetujui oleh anggota Kongres yang mungkin akan menerima notifikasi resmi penjualan drone itu pada bulan depan. Kongres memiliki wewenang untuk menghalangi perjanjian akhir. Penjualan senjata ini ke Taiwan biasanya membuat China marah dan mengajukan protes.

Pada Kamis (6/8) Senator dari Partai Republik dan Demokrat meloloskan undang-undang yang melarang ekspor, pengiriman dan perdagangan drone canggih ke negara yang bukan sekutu AS. Negeri Paman Sam hanya boleh menjual senjata ke anggota-anggota NATO, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, Jepang dan Israel. 

Kesepakatan dengan Taiwan akan menjadi penjualan drone pertama sejak Presiden AS Donald Trump ingin menjual lebih banyak drone ke negara lain. Cara pemerintah Trump menerjemahkan perjanjian pelucutan senjata internasional yang disebut Missile Technology Control Regime (MTCR).

Kementerian Pertahanan Taiwan menolak untuk berkomentar. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin menegaskan kembali sikap Negeri Tirai Bambu dalam menentang setiap penjualan senjata AS ke Taiwan.

Ia mengatakan AS harus berhenti menjual senjata ke Taiwan demi mencegah kerusakan hubungan bilateral kedua negara. Militer Taiwan memang dilatih dan dilengkapi persenjataan dari AS tapi China jauh lebih unggul dan memiliki persenjataan sendiri mulai dari pesawat tempur siluman, rudal anti satelit dan kapal induk.

Salah satu orang yang mengetahui kesepakatan AS-Taiwan mengatakan Taiwan mengajukan pembelian drone-drone tersebut pada awal tahun ini. Pada pekan lalu AS mengirim harga dan data drone ke Taiwan.

Langkah awal ini penting karena menunjukkan pemerintah AS bersedia melakukan kesepakatan meski belum mengikat dan dapat dibatalkan.

Kesepakatan yang diajukan antara lain, empat drone, stasiun pendaratan, suku cadang, pelatihan dan dukungan penggunaan. Berdasarkan penjualan sebelumnya kesepakatan ini dapat senilai 600 juta dolar AS. Salah satu sumber mengatakan kesepakatan itu juga mencantumkan opsi pembelian tambahan di masa mendatang. 

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA