Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Khmer Merah Ternyata tak Selamanya Merah

Ahad 08 Apr 2012 10:34 WIB

Red: Heri Ruslan

Mantan Petinggi Khmer Merah, Nuon Chea

Mantan Petinggi Khmer Merah, Nuon Chea

Foto: Mark Peters/AP

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Teguh Setiawan/Wartawan Senior Republika

Khmer Merah identik dengan darah dan pembantaian, tapi Van Chhuon – seorang ke pala desa yang dipilih rejim pimpinan Pol Pot – menyelamatkan banyak rakyatnya dari pembantaian.

“Saya hanya gagal menyelamatkan satu penduduk desa, namanya Ta Khan,” ujar Chhuon seperti dikutip Phnom Penh Post. “Saya masih menyesali kegagalan saya menyelamatkan mantan ketua komuni itu.”

Chhuon, kini berusia 64 tahun, kepala desa yang dipilih Khmer Merah. Tahun 1970, Chhuon tinggal di Kom pong Tkov sebagai petani. Dia mengenal banyak gerilyawan Khmer Merah, yang direkrut dari kawasan sekitar kampung halamannya.

Ketika Amerika Serikat (AS) mengubah skema Perang Vietnam menjadi Perang Indocina, dengan melakukan pengeboman ke wilayah Kamboja dan Laos untuk memutus Jalur Ho Chi Minh, Chhuon lari dari desanya bersa ma Yim Hoy – wanita yang dinikahi secara Budhist tahun 1971.

Sebelum pengeboman dan Lon Nol menggulingkan Norodom Siha nouk, Khmer Merah hanya kelompok kecil miskin persenjataan. Selama pengeboman oleh AS – yang ditaksir menewaskan 300 ribu orang Kamboja – Khmer Merah banyak merekrut orangorang desa. Sihanouk meyakinkan Beijing untuk memberikan senjata.

Rejim Lon Nol, yang didukung Washington, menjadi sasaran balas dendam pemboman oleh pesawat-pesawat AS. Pertempuran sengit antara Khmer Merah dan pasukan Lon Nol tak terhindarkan.

Tahun 1975, Lon Nol terguling dan melarikan diri ke Jakarta, lalu ke Hawaii. Khmer Merah membunuh semua pejabat rejim Lon Nol, sisa-sisa pasukan, dan antek-anteknya.


                                                          ***

Khmer Merah mengubah struktur pemerintahan desa. Mereka mengorganisir desa ke dalam sangkat, atau komuni. Sangkat Siem Reap, misalnya, terdiri dari sepuluh desa. Chhuon, istri, dan anaknya yang baru berusia tiga tahun, dikirim ke desa Kuok Snuol. Kuok Snuol berisi 100 keluarga.

Mereka mengelola ladang secara komunal. “Di sawah kami bisa mendapat makanan ekstra, serangga, kadal, ular, dan apa saja,” ujar Chhuon. Tahun 1977, suasana revolusi berubah. Pasukan baru tiba di Siem Reap, melucuti pasukan Khmer Merah di seluruh desa, menangkap ketua ko muni, kepala desa, dan orang-orang yang dianggap musuh revolusi.

Kuok Snuol butuh kepala desa ba ru, dan Khmer Merah baru melakukan pemilihan. “Mereka bertanya siapa di antara kami yang paling miskin,” cerita Chhuon. “Penduduk desa me nunjuk sa ya. Sejak saat itu saya jadi kepala desa.” Tugas pertama Chhuon adalah membawa Ta Khan, ketua komuni yang dicopot, ke pertemuan para ketua komuni di Teuk Vil.

“Saya bawa Ta Khan dengan se peda. Ketika saya melihat tentara me nunggu kami, saya tahu Ta Khan akan dibunuh. Saya tidak bisa melakukan apa-apa,” kenang Chhuon.

Takut muncul perlawanan dari dalam, Khmer Merah memerintahkan semua kepala desa melaporkan siapa saja yang diduga tidak loyal, menyembunyikan makanan, atau pro-Vietnam.

“Beberapa kepala desa, karena takut, mengorbankan rakyatnya sen diri; menuduh orang tak bersalah tidak loyal atau pro-Vietnam,” demikian Chhuon. “Jika kepala desa tidak menemukan musuh, Khmer Merah akan menganggap sang kepala desa sebagai musuh dibunuh.”

                                                      ***

Di Wat Svay, lebih 80 orang dibunuh akibat kepala desa yang ketakutan melaporkan penduduk tak bersalah sebagai pencuri makanan, dan pro-Vietnam. Chhuon memilih tidak akan melakukannya. Jika ia melapor, orang bermasalah akan ditangkap dan disiksa agar memberi informasi, lalu akan ada penangkapan lagi dan lagi, dan pembunuhan. Musuh lainnya adalah kelaparan.

Chhuon menginstruksikan penduduk desa untuk tidak menyembunyikan makanan hasil curian di dalam rumah, tapi di luar. Jika tentara Khmer Merah datang dan memeriksa, mereka tidak menemukan apa-apa.

Yim Hoy, istri Chhuon, mengatakan dirinya hidup dalam ketakutan konstan. “Setiap kali Chhuon menghadiri pertemuan komuni, saya tidak pernah berpikir dia akan kembali, tapi dia selalu kembali,” ujarnya.

Nai Kong ditangkap karena mengeluhkan perilaku rejim. Ia dijebloskan ke penjara. Chhuon tidak punya otoritas dalam soal tahanan, tapi mencoba membebaskan Nai.

“Dua pekan kemudian Chhuon datang dengan sepeda untuk menjemput saya,” cerita Nai di depan Supreme Court Chamber of the Extraordinary Chambers in the Courts of Cambodia (ECCC) yang mengadili tokoh-tokoh Khmer Merah.

Ketika Vietnam datang, Chhuon lari ke dalam hutan karena takut penduduk desa balas dendam. Hampir seluruh kepala desa Khmer Merah dimutilasi penduduk desa yang marah. “Tak lama di dalam hutan, beberapa penduduk desa datang dan meminta saya mengawasi panen,” kata Chhuon.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA