Sabtu 28 May 2022 15:55 WIB

Donald Trump Tolak Seruan Pengetatan Kontrol Senjata di AS

Usulan pengetatan senjata muncul setelah ada insiden penembakan di Texas.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Dwi Murdaningsih
Petugas keamanan di Txas, AS saat mengevakuasi korban penembakan massal di Sekolah Dasar  Robb, Uvalde, Texas.
Foto: VOA
Petugas keamanan di Txas, AS saat mengevakuasi korban penembakan massal di Sekolah Dasar Robb, Uvalde, Texas.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menolak seruan untuk memperketat kontrol senjata di negara tersebut. Wacana kembali mencuat pasca-insiden penembakan di Robb Elementary School yang menewaskan 19 anak dan dua guru.

“Eksistensi kejahatan di dunia kita bukanlah alasan untuk melucuti senjata warga yang taat hukum. Eksistensi kejahatan adalah salah satu alasan terbaik untuk mempersenjatai warga yang taat hukum," kata Trump kepada anggota National Rifle Association (NRA) di Houston, Texas, Jumat (27/5). 

Baca Juga

Menurut dia, berbagai kebijakan pengendalian senjata yang didorong kaum kiri tak akan memberi dampak apa pun untuk mencegah aksi kekerasan bersenjata. Oleh sebabitu, Trump memandang upaya kontrol senjata sebagai hal yang “aneh”.

"Kita semua harus bersatu, Republik serta Demokrat, di setiap negara bagian, dan di setiap tingkat pemerintahan, untuk akhirnya memperkuat sekolah kita dan melindungi anak-anak kita. Yang kita butuhkan sekarang adalah perbaikan keamanan dari atas ke bawah di sekolah di seluruh negeri ini," ucap Trump.

Pada kesempatan itu, Trump sempat membacakan nama 19 anak yang menjadi korban dalam penembakan di Robb Elementary School. Trump menggambarkan mereka sebagai korban dari “orang gila” yang membabi buta.

Partai Republik di Washington telah menyarankan agar keamanan di sekolah-sekolah AS ditingkatkan, termasuk menempatkan penjaga bersenjata di gerbang masuk dan keluar. Sejalan dengan Trump, Partai Republik masih terkesan “menolak” gagasan pengendalian atau pembatasan kepemilikan senjata.

Selama ini NRA telah dianggap sebagai pihak yang terus berusaha mencegah atau menjegal inisiatif hukum terkait pengetatan kontrol senjata. NRA dipandang sebagai organisasi hak senjata paling kuat di AS. Kendati demikian, pengaruhnya telah terkikis akibat terperosok dalam pertempuran hukum terkait skandal korupsi.

Menurut Gun Violence Archive, sepanjang tahun ini, sudah terdapat 214 penembakkan massal di AS. Mereka termasuk penembakan bermotif rasialis di supermarket di lingkungan Black Buffalo, New York, yang terjadi hanya 10 hari sebelum insiden Robb Elementary School. 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement