Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Ahli: CDC Harus Lebih Banyak Lagi Lacak Kasus Infeksi Terobosan

Sabtu 29 Jan 2022 10:30 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Reiny Dwinanda

Vaksin Covid-19 (ilustrasi). Orang yang sudah divaksinasi masih dapat mengalami kasus terobosan (breakthrough infection).

Vaksin Covid-19 (ilustrasi). Orang yang sudah divaksinasi masih dapat mengalami kasus terobosan (breakthrough infection).

Foto: Wikimedia
Jumlah kasus terobosan di AS hanya menghitung orang yang mengalami kasus parah saja.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengatakan cara terbaik mencegah infeksi dan memperlambat penyebaran Covid-19 adalah mendapatkan vaksinasi. Namun, tidak diketahui berapa jumlah total kasus infeksi terobosan (breakthrough infection), karena badan itu hanya memantau kasus yang paling parah setiap bulannya.

Setelah 1 Mei 2021, CDC menyederhanakan pelaporan semua infeksi terobosan Covid-19 menjadi hanya memantau kasus paling parah. CDC mengakui bahwa jumlah total kasus kurang terwakili karena pasien tanpa gejala atau kasus ringan tidak mencari perawatan atau menjalani tes Covid-19.

Baca Juga

Direktur medis unit perawatan intensif di Mayo Clinic, Devang Sanghavi, mengatakan kepada American Medical Association (AMA) bahwa kasus infeksi terobosan Covid-19 didefinisikan sebagai deteksi RNA virus atau antigen Covid-19 dalam spesimen pernapasan yang dikumpulkan 14 hari setelah menerima dosis kedua vaksin mRNA Moderna atau Pfizer atau dua pekan setelah dosis tunggal vaksin  Covid-19 Johnson & Johnson.

CDC bertransisi untuk fokus pada kasus terobosan dengan signifikansi klinis dan kesehatan masyarakat tertinggi karena kebanyakan kasus breakthrough infection pada orang yang telah divaksinasi dosis lengkap tidak berkembang menjadi penyakit serius. Itu jika dibandingkan mereka yang tidak divaksinasi dan terkena Covid-19.

"Salah satu kelebihan sistem ini adalah pendataan kasus berat infeksi terobosan terhadap vaksin Covid-19 karena kemungkinan besar orang dengan kasus seperti ini mencari perawatan medis dan didiagnosis serta dilaporkan sebagai kasus Covid-19," kata pernyataan resmi CDC, dilansir Fox News, Sabtu (29/1/2022).

Sekitar 10 persen orang yang mengembangkan infeksi terobosan masih memerlukan rawat inap. Sekitar satu hingga dua persen dari mereka yang dirawat di rumah sakit karena infeksi terobosan mungkin masih berisiko meninggal.

"Jadi, itu masih menjadi perhatian," ujar Sanghavi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA