Saturday, 20 Syawwal 1443 / 21 May 2022

AS Minta Keluarga Staf di Kedutaan Segera Tinggalkan Ukraina

Senin 24 Jan 2022 11:27 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Friska Yolandha

Prajurit Ukraina berpatroli di Desa Verkhnotoretske, Distrik Yasynuvata, Donetsk, Ukraina, Sabtu (22/1/2022).

Prajurit Ukraina berpatroli di Desa Verkhnotoretske, Distrik Yasynuvata, Donetsk, Ukraina, Sabtu (22/1/2022).

Foto: AP Photo/Andriy Andriyenko
Warga AS juga diperingatkan untuk tidak melakukan perjalanan ke Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV -- Departemen Luar Negeri (Deplu) Amerika Serikat (AS) memerintahkan agar seluruh keluarga personel atau staf kedutaan di Ukraina segera meninggalkan negara itu di tengah meningkatnya kekhawatiran terjadi serangan dari Rusia. Deplu AS juga memperingatkan warga AS untuk tidak melakukan perjalanan ke Rusia.

Para keluarga dari staf diminta untuk pergi dari Ukraina di saat situasi ketegangan dengan Rusia meningkat, dengan biaya dari Pemerintah AS. Diperingatkan bahwa perang mungkin dapat terjadi di wilayah negara tersebut. 

Baca Juga

"Warga negara AS di Ukraina sebaiknya kini mempertimbangkan kepulangan dengan menggunakan opsi transportasi pribadi atau komersial," katanya.

Meski demikian, Kedutaan Besar AS di Ibu Kota Kiev, Ukraina tetap akan dibuka. Pengumuman agar keluarga para staf pergi meninggalkan negara itu tidak ditujukan secara khusus untuk evakuasi darurat. 

Ketegangan terjadi terkait kegiatan militer Rusia di perbatasan Ukraina. Selama pembicaraan antara Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Jenewa, Swiss, tidak ada kesepakatan yang didapatkan untuk meredakan masalah. 

Departemen Luar Negeri AS mencatat laporan baru-baru ini bahwa Rusia sedang merencanakan aksi militer yang signifikan terhadap Ukraina. 

“Kondisi keamanan, terutama di sepanjang perbatasan Ukraina, di Krimea yang diduduki Rusia dan di Ukraina timur yang dikuasai Rusia, tidak dapat diprediksi dan dapat memburuk dengan sedikit pemberitahuan,” ujar Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan, dilansir The National, Senin (24/1).

Departemen Luar Negeri AS juga mengatakan bahwa demonstrasi, yang terkadang berubah menjadi kekerasan, secara teratur terjadi di seluruh wilayah Ukraina. Bahkan, ini termasuk di Kiev.

Namun, Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh negara-negara NATO meningkatkan ketegangan di sekitar Ukraina dengan disinformasi.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA