Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

AS Dakwa Orang Kedua dalam Peran Pembunuhan Presiden Haiti

Jumat 21 Jan 2022 09:56 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani

Wanita berjalan di sebelah mural dengan potret presiden Haiti Jovenel Moïse yang terbunuh di Port-au-Prince, Haiti, Rabu, 22 September 2021.

Wanita berjalan di sebelah mural dengan potret presiden Haiti Jovenel Moïse yang terbunuh di Port-au-Prince, Haiti, Rabu, 22 September 2021.

Foto: AP/Rodrigo Abd
Rodolphe Jaar didakwa berkonspirasi untuk melakukan pembunuhan Presiden Haiti

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mengatakan pada Kamis (20/1/2022), bahwa telah mendakwa orang kedua atas perannya dalam pembunuhan mantan Presiden Haiti Jovenel Moise pada Juli 2021. Rodolphe Jaar merupakan warga negara ganda Haiti-Cile dan ditangkap pada Rabu (19/1/2022).

Pria berusia 49 tahun itu didakwa berkonspirasi untuk melakukan pembunuhan atau penculikan di luar Amerika Serikat (AS). Dia pun memberikan dukungan materi yang mengakibatkan kematian dan sekarang menjadi terdakwa kedua yang menghadapi dakwaan sehubungan dengan pembunuhan Moise.

Baca Juga

Gugatan dimulai di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Selatan Florida pada Rabu. Gugatan ini menuduh bahwa Jaar hadir ketika seorang rekan konspirator yang tidak disebutkan namanya memperoleh tanda tangan dari seorang mantan hakim Haiti atas permintaan bantuan untuk menangkap dan memenjarakan Moise.

Rekan konspirator yang tidak disebutkan namanya ini disebut hanya sebagai "co-conspirator #1," dan digambarkan sebagai sosok Haiti-Amerika yang melakukan perjalanan dari Haiti ke AS. Mereka membantu meletakkan dasar rencana sebelum terbang kembali ke Haiti dari Florida pada 1 Juli 2021 untuk berpartisipasi dalam operasi. Orang tersebut saat ini ditahan di Haiti.

Moise dibunuh di kediamannya di Port-au-Prince pada 7 Juli 2021. Dia ditembak 12 kali.

Dakwaan itu menyatakan, Jaar secara sukarela menyetujui wawancara dengan agen FBI pada 9 Desember 2021. Dia mengakui bahwa memberikan senjata api dan amunisi kepada orang Kolombia untuk mendukung operasi pembunuhan itu.

"Dia menyatakan bahwa operasi berubah dari operasi penangkapan menjadi operasi pembunuhan setelah rencana awal untuk 'menangkap' Presiden Haiti di bandara dan membawanya pergi dengan pesawat tidak dilanjutkan," ujar agen FBI dalam pernyataan tersumpah yang mendukung pengaduan pidana.

Awal bulan ini, AS mendakwa mantan perwira militer Kolombia Mario Palacios sebagai bagian dari konspirasi yang pertama kali direncanakan untuk menculik Moise. Kemudian rencana penculikan berkembang menjadi plot pembunuhan setelah para konspirator tidak dapat menemukan pesawat untuk membawa presiden keluar dari Haiti. Pemerintah berpendapat bahwa Jaar dan sekelompok sekitar 20 warga Kolombia dan beberapa orang Haiti-Amerika bersekongkol dalam plot itu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA