Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Biden Serang Cara Trump Tangani Covid-19

Sabtu 24 Oct 2020 12:23 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Capres pejawat Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan penantangnya Joe Biden.

Capres pejawat Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan penantangnya Joe Biden.

Foto: AP/Morry Gash/AP Pool
Joe Biden menyerang penanganan wabah oleh pemerintahan Trump

REPUBLIKA.CO.ID, FLORIDA - Kandidat pejawat presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat (23/10) menjanjikan pada para pendukungnya pandemi Covid-19 akan segera berakhir. Pernyataan itu diungkapkan usai kandidat lawannya, Joe Biden, menyerang penanganan wabah oleh pemerintahan Trump.

"Kita akan mengakhiri pandemi ini dengan cepat. Kehidupan yang normal akan sepenuhnya kembali," kata Trump dalam sebuah kampanye di The Villages, Florida.

Pandemi yang menewaskan lebih dari 223.000 orang di AS serta membuat jutaan orang di negara itu kehilangan pekerjaan, menjadi isu dominan dalam kampanye kedua kandidat. Pada sebuah kampanye di Wilmington, Delaware, sebelumnya pada hari yang sama, Biden menyebut Trump telah menyerah menangani wabah.

Biden berjanji jika terpilih sebagai presiden ia akan meminta Kongres untuk menyetujui regulasi komprehensif terkait Covid-19 dan ia akan menandatanganinya dalam waktu 10 hari pertama masa jabatannya.

"Dia (Trump) sudah menyerah menangani Amerika. Dia hanya ingin kita jalan di tempat. Saya tidak akan mematikan perekonomian. Saya tidak akan mematikan negara ini. Saya akan mematikan virusnya," ujar Biden.

Trump juga mengolok-olok Biden atas pernyataannya dalam debat final pada Kamis (22/10) mengenai situasi AS yang akan memasuki "musim dingin yang kelam" akibat wabah COVID-19. Trump mengatakan Biden berupaya membesar-besarkan krisis virus corona untuk menakut-nakuti masyarakat AS demi mendulang suara.

Para peneliti dari Lembaga Metrik dan Evaluasi Kesehatan di Universitas Washington, AS pada hari yang sama memperingatkan virus corona dapat menewaskan lebih dari setengah juta orang di negara itu hingga akhir Februari 2021.

Merujuk pada kajian yang dilakukan, mereka juga menyebut sekitar 130 ribu nyawa dapat diselamatkan jika semua orang mengenakan masker.

Kurang dari dua pekan hingga hari pemungutan suara utama pada 3 November, lebih dari 52 juta warga Amerika sudah memberikan hak suara mereka. Michael McDonald dari Proyek Pemilu di Universitas Florida serta sejumlah pakar lainnya memprediksi pemilu presiden kali ini akan mencapai rekor pemilih yang ikut serta, melampaui angka partisipasi pemilih pada pemilu sebelumnya sebesar 60 persen.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA