Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Negara Kawasan Afrika: Negara Kaya Jangan Egois

Jumat 05 Mar 2021 20:26 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Paramedis dari layanan ambulans Saaberie Chishty memasuki rumah seorang pasien COVID-19 di Lenasia, Afrika Selatan, Rabu, 6 Januari 2021. Selama lebih dari 30 tahun, layanan ambulans Saaberie Chishty telah menanggapi keadaan darurat medis dengan ketat. komunitas Muslim rajut di Johannesburg.

Paramedis dari layanan ambulans Saaberie Chishty memasuki rumah seorang pasien COVID-19 di Lenasia, Afrika Selatan, Rabu, 6 Januari 2021. Selama lebih dari 30 tahun, layanan ambulans Saaberie Chishty telah menanggapi keadaan darurat medis dengan ketat. komunitas Muslim rajut di Johannesburg.

Foto: AP/Bram Janssen
Negara-negara Afrika menyerukan keadilan dalam penyaluran vaksin.

REPUBLIKA.CO.ID,  KAMPALA -- Negara-negara Afrika mulai menerima vaksin virus Corona dari program distribusi vaksin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Covax. Di sisi lain banyak pemerintah Benua Afrika yang menyerukan keadilan ketersediaan vaksin Covid-19.  

"Negara-negara kaya seharusnya tidak egois, ini masalah dan semua orang membicarakannya," kata kepala Institut Penelitian Virus Uganda Pontiano Kaleebu, Jumat (5/3).

Kaleebu mengatakan negaranya sedang bersiap untuk menerima dosis pertama vaksin Covid-19. Negara di Afrika Timur yang berpopulasi 45 juta orang itu menerima 864 ribu dosis vaksin. Gelombang pertama dari 18 juta dosis yang dijanjikan Covax untuk Uganda.

Epidemiolog dan penasihat presiden Uganda Monica Musenero mengatakan jumlah dosis yang mereka terima 'tidak berdampak banyak'. "Kami dapat mendorong untuk mendapatkan lebih banyak vaksin, tapi kami juga harus mengapresiasi yang telah kami terima," katanya.

Ia mendesak 54 negara Afrika untuk berusaha mendapatkan lebih banyak sumber betapa pun terbatasnya pasokan demi mengamankan jumlah dosis yang dibutuhkan. "Sebagai blok kami harus mengorganisir diri kami sendiri, daripada hanya duduk menangis," katanya.

Yayasan pemenang Hadiah Nobel dan mantan Uskup Afrika Selatan Desmond Tutu dan istrinya, Leah mengeluarkan pernyataan. Dalam pernyataan itu Tutu dan Leah mengakui sejumlah negara kaya memiliki lebih banyak vaksin daripada yang dibutuhkan.

"Ini bukan waktunya untuk mementingkan diri sendiri," kata Tutu dan Leah dalam pernyataannya.

Dalam pernyataan itu mereka mencatat semakin kuat seruan untuk pengabaian kekayaan intelektual vaksin Covid-19 agar vaksin dapat diproduksi dan distribusikan lebih cepat. Uni Eropa dan negara-negara kaya seperti Amerika Serikat (AS), Inggris dan Kanada menolak gagasan tersebut.

Inisiatif Covax memang dibentuk untuk memastikan negara pendapatan rendah dan menengah menerima vaksin Covid-19. Tetapi distribusi dan pasokan vaksin program itu terbatas. Kepala WHO Afrika Matshidiso Moeti mengatakan 'akhirnya' 10 juta dosis vaksin sudah dikirimkan ke 11 negara Afrika.

"Kami berharap sekitar setengah negara-negara Afrika akan menerima vaksin Covax dalam beberapa pekan ke depan dan sebagian besar negara Afrika akan menjalani program vaksinasi pada akhir bulan Maret," tambahnya.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA