Jumat, 16 Zulqaidah 1440 / 19 Juli 2019

Jumat, 16 Zulqaidah 1440 / 19 Juli 2019

Indonesia Naikkan Ukuran Berat Sapi Impor

Sabtu 25 Feb 2017 10:13 WIB

Red: Ani Nursalikah

Sapi Australia.

Sapi Australia.

Foto: abc

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Pemerintah RI mengesahkan perubahan aturan mengenai ukuran berat maksimal ternak sapi yang akan diimpor dari Australia. Batasan badan itu dinaikkan dari tadinya maksimal 350 Kg per ekor menjadi 450 Kg per ekor.

Perubahan aturan ini disambut baik di kalangan industri peternakan di Australia Utara. CEO Consolidated Pastoral Company (CPC), Troy Setter, misalnya menanggapi baik perubahan ini. Menurut dia, hal ini akan memungkinkan para peternak mengirimkan lebih banyak pilihan ternak ke Indonesia.

"Ini memungkinkan peternakan di Australia menambah berat badan ternaknya dan mengurang banyak kerja tambahan yang selama ini membebani biaya bagi sektor peternakan di Australia Utara," katanya kepada ABC Rural.

"Sebelum aturan 350 Kg berlaku, pada 2010 tidak banyak kerja tambahan dalam perdagangan ternak di Australia Utara. Dengan mengurangi kerja tambahan itu akan meningkatkan berat badan, mengurangi biaya dan meningkatkan kesejahteraan hewan," jelasnya.

CEO Livestock Exporters Association di Northern Territory, Stuart Kemp mengatakan perubahan pada pembatasan berat badan ternak merupakan kabar baik bagi semua pihak dalam mata rantai pasokan. "Dengan spesifikasi ketat sebelumnya (berat maksimal 350 kilogram per ekor), berarti Indonesia menghendaki hewan muda dan premium," katanya.

"Jika Anda melihat hasil penjualan di seluruh Australia, sapi bakalan yang ada selalu produk premium. Jadi jika kita melewati batas itu, maka kita harus mencari pasar lain," tambahnya.

"Sekarang perubahan ini membuka berbagai hal, sehingga produsen, eksportir dan importir semua memiliki fleksibilitas ketika mencari pasokan ternak," tambahnya.

Kemp menjelaskan perubahan akan sangat mengurangi tekanan atas produsen ternak di Australia Utara. "Jika peternak memiliki ternak yang tumbuh dengan menjaga kondisinya, mereka tidak ingin ternaknya itu dilepas ke lapangan dan menangkapnya sebelum menjadi terlalu berat," katanya.

"Perubahan ini berarti berkurangnya kerja tambahan, dan lebih yakin kita bisa memasukkan sapi-sapi itu saat sudah siap, dan di saat yang terbaik bagi mereka," tambahnya.

Diterbitkan Pukul 14:00 AEST 24 Februari 2017 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA