Tuesday, 9 Rajab 1444 / 31 January 2023

Bolehkah Muslimah Memanjangkan Kuku?

Jumat 04 Oct 2013 14:02 WIB

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Endah Hapsari

Kuku tangan

Kuku tangan

Foto: blogspot

REPUBLIKA.CO.ID, Tampil menarik di depan orang lain memang terkadang merupakan idaman tiap wanita. Ragam upaya dilakukan untuk merias dan mempercantik diri. Salah satu upaya yang ditempuh, antara lain, dengan cara memanjangkan kuku. Ada yang lantas mewarnai atau melukis kuku tersebut dengan varian motif dan warna. Lalu, apa sebetulnya hukum memanjangkan kuku itu sendiri bagi wanita? 

Prof Abd al Karim Zaidan menjelaskan persoalan yang berkaitan dan ihwal pemanjangan kuku bagi perempuan Muslimah itu dalam bukunya yang berjudul, al-Mufashal fi Ahkam al-Marati. Dia menegaskan, para ulama sepakat hukum memanjangkan kuku, apa pun motifnya, tidak diperbolehkan. Larangan ini sangat berdasar karena tindakan tersebut dianggap bertentangan dengan sunah. Bukan hanya sunah Nabi Muhammad SAW, melainkan juga sunah para nabi terdahulu. 

Rasulullah SAW menyerukan hendaknya memotong kuku, bukan malah memanjangkannya. Ini sesuai dengan sabda Rasul yang dinukilkan oleh Bukhari dan Muslim. Dalam hadis itu, dijelaskan terdapat dua sunah yang berkaitan dengan fitrah bagi tubuh manusia, yakni khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan menipiskan kumis.  

Ada banyak hikmah di balik larangan memanjangkan kuku. Paling utama menyangkut kebersihan dan kesucian anggota tubuh, terutama pada bagian jari tangan di daerah kuku. Dengan tidak memanjangkan kuku, akan menghindari penumpukan kotoran pada sela-sela kuku tersebut. Ini bisa berdampak pada akumulasi bakteri yang bisa berakibat fatal pada kesehatan tubuh. 

Sedangkan hikmah dari aspek kesuciannya, ungkap Zaidan, memendekkan kuku menutup kemungkinan adanya najis yang menempel atau tersisa dai sela-sela kuku. Terutama, najis yang datang pascabersuci dari hadas kecil, baik buang air kecil atau buang air besar.

Maka, bila dibiarkan dalam kondisi panjang dan disertai dengan unsur kesengajaan, apabila ada najis walau sedikit yang menyelip pada celah kuku itu, bisa berpengaruh pada keabsahan shalat. Karena itu, dianjurkan memotong kuku secara saksama hingga tidak menyisakan celah bagi terselipnya kotoran. “Ini menghindari keberadaan najis,” kata Zaidan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA