Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Suami dan Istri Tidur di Kamar Terpisah, Apa Plus-Minusnya?

Kamis 24 Jun 2021 01:45 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Tidur (ilustrasi). Sejumlah pasangan suami-istri memilih untuk tidur di kamar yang berbeda.

Tidur (ilustrasi). Sejumlah pasangan suami-istri memilih untuk tidur di kamar yang berbeda.

Foto: www.freepik.com
Keputusan ayah-ibu tidur terpisah akan berdampak pada keluarga secara keseluruhan.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW HAVEN -- Semakin banyak pasangan suami istri (pasutri) di Amerika Serikat (AS) yang memilih tidur di kamar terpisah. Survei 2012 oleh Better Sleep Council dan survei 2017 dari National Sleep Foundation mengungkap bahwa satu dari empat pasangan AS punya kamar tidur berlainan.

"Bagi banyak pasangan, tidur terpisah bisa menjadi pilihan terbaik untuk hubungan mereka," kata profesor kedokteran di Yale's School of Medicine, Meir Kryger, dikutip dari laman USA Today, Rabu (23/6).

Itu merupakan kebebasan tiap pasangan, tapi tentu ada konsekuensinya. Banyak ahli sepakat bahwa keputusan ayah dan ibu tidur secara terpisah akan berdampak pada keluarga secara keseluruhan.

Baca Juga

Tidak menutup kemungkinan anak bisa merasa malu melihat kondisi itu, tidak aman, atau khawatir atas pengaturan tidur orang tua. Beberapa anak bahkan bertanya-tanya apakah keputusan orang tua mereka untuk tidur terpisah berarti tidak lagi saling cinta.

Karena itu, penting bagi orang tua untuk mendiskusikan mengenai pengaturan tidur yang mereka buat dengan anak. Orang tua tidak perlu berbasa-basi atau mengirim pesan ambigu kepada buah hatinya. Sampaikan dengan lugas jika memang itu berasal dari pemutusan hubungan romantis atau masalah perkawinan, atau salah satu pihak terganggu dengan masalah tidur yang dialami pasangannya.

Apabila keputusan tidur terpisah bukan soal ikatan cinta yang rusak, orang tua dapat menunjukkan cinta dengan cara lain di depan anak. Misalnya, saling menggenggam tangan, saling memuji, atau meringkuk bersama di sofa saat waktu senggang.

"Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa pasangan yang tidur terpisah untuk tujuan kualitas tidur yang lebih baik memiliki hubungan romantis yang lebih rendah daripada pasangan yang berbagi tempat tidur," ungkap Kryger yang menulis buku The Principles and Practice of Sleep Medicine.

Psikolog asal Manhattan, Joseph Cilona, ​​berpendapat, tidur terpisah dengan pasangan bisa memberikan efek sangat positif atau sangat negatif untuk suatu hubungan. Pada dasarnya, semua bermuara pada alasan bahwa kedua belah pihak ingin tidur nyenyak.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA