Wednesday, 9 Rabiul Awwal 1444 / 05 October 2022

Virus Covid-19 Lebih Bahaya dari SARS, MERS, dan Influenza?

Kamis 18 Aug 2022 08:54 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Nora Azizah

Virus Covid-19 (nCoV) masuk dalam virus penyebab pernapasan akut.

Virus Covid-19 (nCoV) masuk dalam virus penyebab pernapasan akut.

Foto: Sarah Poser, Meredith Boyter Newlove/CDC via
Virus Covid-19 (nCoV) masuk dalam virus penyebab pernapasan akut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika virus coronavirus Wuhan menyebar dengan cepat, negara-negara di seluruh dunia telah memulai persiapan untuk melindungi diri dari wabah tersebut. Kasus infeksi telah dikonfirmasi di lebih dari 19 negara sampai saat ini.

Isolasi tepat waktu, pemantauan, dan penyaringan penumpang yang datang dari China diharapkan akan membantu menahan penyebaran jenis baru virus corona (2019-nCoV). Kematian hanya dilaporkan dari China. Itulah sebabnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menyatakannya sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.

Baca Juga

Namun, meningkatnya virus, yang dapat ditularkan melalui kontak dekat manusia, telah membuat komite darurat bertemu lagi pada 30 Januari lalu untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Tapi ini bukan pertama kalinya infeksi virus memicu kepanikan. Apakah wabah saat ini juga sangat menular seperti wabah sebelum-sebelumnya, seperti influenza, SARS dan MERS?

 

SARS, MERS, & Virus Corona Wuhan

2019-nCov termasuk dalam keluarga virus yang sama dengan yang menyebabkan wabah sindrom pernapasan akut (SARS) 2002-2003. SARS berasal dari China dan telah menyebabkan kematian hampir 800 orang.

Wabah jug telah melumpuhkan transportasi dan merusak ekonomi Asia. Jenis virus corona yang berbeda kemudian bertanggung jawab atas wabah Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) di Arab Saudi pada 2012 yang menyebar ke negara lain, hingga mempengaruhi 2.144 orang dan menyebabkan 750 kematian.

Jenis virus baru, yang berasal dari Wuhan China, kini telah menginfeksi 7.700 orang dan menewaskan 170 orang. Sebagian besar kematian dilaporkan di antara orang tua, dari 425 orang. Pasien yang terinfeksi pertama di China berusia 59 tahun.

Menurut sebuah laporan yang diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine, diperkirakan setiap orang yang terkena menularkan infeksi ke rata-rata 2,2 orang lebih banyak. Itu merupakan angka yang lebih tinggi dari flu normal tetapi lebih rendah daripada penyakit pernapasan lainnya atau wabah SARS.

Perkiraan menunjukkan bahwa setiap orang menyebarkannya ke tiga orang lainnya. Jika membandingkan tingkat kematian semua wabah, dapat disimpulkan bahwa wabah sebelumnya lebih mematikan, menurut The New York Times.

SARS membunuh 10 persen orang yang terinfeksi dan MERS membunuh 25 persen. Namun, tingkat kematian untuk virus corona baru tampaknya hanya dua persen.

 

Tetapi apakah 2019-NcoV membuat jenis kepanikan yang dipicu secara global?

Dr Michael T. Osterholm, direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular di University of Minnosota, mengatakan kepada NYT, bahwa penyebaran virus corona baru mulai menyerupai flu musiman.

Berbicara kepada FIT, Dr Sumit Ray, Konsultan Senior, Pengobatan Perawatan Kritis, mengatakan sejarah setiap infeksi virus di musim dingin adalah penyebab kematian yang signifikan di antara orang tua.

Flu musiman membunuh 291 ribu hingga 646 ribu orang di seluruh dunia setiap tahunnya. Sedikitnya 8.200 orang di Amerika Serikat meninggal selama musim flu ini, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Dr Sumit Ray menjelaskan angka kematian influenza setiap tahun adalah 2-3 persen dari orang yang didiagnosis. Hal itu tidak termasuk kematian akibat penyakit sekunder yang disebabkan oleh influenza.

Coronavirus, di sisi lain, memiliki tingkat kematian dua persen. “Anda tidak bisa panik hanya karena ini adalah jenis baru, ketika Anda tahu bahwa infeksi virus selalu menjadi penyebab utama kematian di kalangan orang tua,” kata Ray, seperti dikutip dari The Quint, Kamis (18/8/2022).

Angka kematian yang disebabkan oleh virus baru memang tidak bisa diabaikan. Tapi panik saja tidak akan membantu.

“Upaya yang konsisten untuk meningkatkan layanan kesehatan primer dan sekunder diperlukan untuk mengatasi infeksi virus ini”, kata Dr Ray menambahkan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA