Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Peneliti Kembangkan Rapid Test Identifikasi Varian Delta atau Omicron

Ahad 03 Jul 2022 10:04 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Indira Rezkisari

Petugas kesehatan melakukan tes usap Covid-19.

Petugas kesehatan melakukan tes usap Covid-19.

Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Tes hanya mendeteksi fragmen materi genetik tanpa mengidentifikasi varian covid.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sebuah tim peneliti telah mengembangkan tes rapid Covid-19 yang bisa membantu mengidentifikasi berbagai varian SARS-CoV-2 hanya dalam beberapa jam. Setelah mengembangkan CoVarScan, tes rapid Covid-19 yang mendeteksi ciri khas dari delapan hotspot pada virus SARS-CoV-2, tahun lalu, tim tersebut sekarang mengujinya pada lebih dari 4.000 sampel pasien.

Para peneliti melaporkan bahwa tes mereka seakurat metode lain yang digunakan untuk mendiagnosis Covid-19. Tes juga dapat berhasil membedakan antara semua varian SARS-CoV-2 saat ini.

Baca Juga

"Dengan menggunakan tes ini, kami dapat menentukan dengan sangat cepat varian apa yang ada di komunitas dan apakah varian baru muncul. Ini juga memiliki implikasi bagi masing-masing pasien ketika kita berhadapan dengan varian yang merespons perawatan secara berbeda,” kata peneliti Jeffrey SoRelle dari University of Texas Southwestern di AS, Ahad (3/7/2022).

Dibandingkan dengan pengurutan seluruh genom, CoVarScan memiliki sensitivitas 96 persen dan spesifisitas 99 persen. Ini mengidentifikasi dan membedakan varian Delta, Mu, Lambda, dan Omicron, termasuk subvarian BA.2 Omicron yang dulu dikenal sebagai "stealth Omicron" karena tidak muncul pada beberapa tes yang dirancang untuk mendeteksi hanya strain Omicron.

Meskipun saat ini sudah tersedia tes Covid-19, mereka umumnya mendeteksi fragmen materi genetik SARS-CoV-2 atau molekul kecil yang ditemukan di permukaan virus dan tidak mampu mengidentifikasi varian virusnya. Namun di sisi lain, banyak peneliti khawatir bahwa tes CoVarScan tidak akurat dalam mendeteksi beberapa varian.

Untuk menentukan varian Covid-19 yang dimiliki pasien, para ilmuwan biasanya harus menggunakan sekuensing seluruh genom yang membutuhkan waktu lama, biaya mahal, serta mengandalkan peralatan dan analisis canggih untuk menguraikan seluruh urutan RNA yang terkandung dalam virus.

Pada awal 2021, SoRelle dan timnya ingin melacak seberapa efektif tes CoVarScan dalam mendeteksi varian SARS-CoV-2 yang muncul. Tetapi mereka menyadari bahwa mengurutkan banyak spesimen tidak akan tepat waktu atau hemat biaya, jadi mereka merancang pengujian mereka sendiri.

"Kritik umum dari tes semacam ini adalah bahwa hal itu membutuhkan penyesuaian konstan untuk varian baru, tetapi CoVarScan tidak memerlukan penyesuaian apapun selama lebih dari setahun; itu masih berkinerja sangat baik," kata SoRelle.

"Nantinya jika memang perlu disesuaikan, kita bisa dengan mudah menambahkan sebanyak 20 atau 30 titik api tambahan untuk pengujian," tambah dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA