Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

Kebiasaan Sederhana yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Risiko Alzheimer

Kamis 26 May 2022 21:55 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Qommarria Rostanti

Kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko Alzheimer. (ilustrasi)

Kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko Alzheimer. (ilustrasi)

Foto: Republika.co.id
Jumlah kasus Alzheimer di seluruh dunia diprediksi menjadi tiga kali lipat pada 2050.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Risiko Alzheimer bisa dialami oleh orang-orang yang membawa gen dan membuat mereka paling rentan, menurut sebuah studi baru. Beruntung, ada setidaknya tujuh kebiasaan yang disebut bisa mengurangi risiko alzheimer hingga setengahnya.

Kebiasaan itu termasuk bergerak aktif, makan lebih baik, menurunkan berat badan, menjaga tekanan darah normal. Selain itu, bisa juga dengan mengontrol kadar kolesterol dan mengurangi gula darah, merupakan bagian dari apa yang disebut tim peneliti sebagai "Life's Simple 7". Bahkan kebiasaan sederhana itu juga dapat melindungi dari penyakit kardiovaskular.

Baca Juga

"Kebiasaan sehat dalam Life's Simple 7 ini telah dikaitkan dengan risiko demensia yang lebih rendah secara keseluruhan," kata penulis utama Profesor Adrienne Tin dari University of Mississippi, menurut sebuah pernyataan dari South West News Service (SWNS), dilansir di Studyfinds.org, Kamis (26/5/2022).

Tetapi tidak pasti apakah hal yang sama berlaku untuk orang dengan risiko genetik tinggi. "Kabar baiknya adalah bahkan untuk orang yang memiliki risiko genetik tertinggi, menjalani gaya hidup sehat yang sama, cenderung memiliki risiko demensia lebih rendah,” ujar Prof Tin.

Tim peneliti memantau 11.561 orang tua selama 30 tahun, termasuk 8.823 keturunan Eropa dan 2.738 keturunan Afrika. Di antara orang Eropa, mereka yang mencapai skor gaya hidup tinggi 43 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan demensia. Mereka yang memiliki skor gaya hidup menengah memiliki risiko 30 persen lebih rendah.

Di antara mereka yang berasal dari Afrika, jumlah kasus turun masing-masing 17 dan enam persen. Peserta melaporkan tingkat mereka di semua tujuh faktor kesehatan selama penelitian.

Skor berkisar dari 0 hingga 14, masing-masing mewakili yang paling tidak sehat dan paling sehat. Skor rata-rata untuk orang Eropa adalah 8,3; sedangkan orang Afrika memiliki skor rata-rata 6,6. Untuk setiap kenaikan satu poin, ada risiko demensia sembilan persen lebih rendah.

Perkiraan memproyeksikan jumlah kasus Alzheimer di seluruh dunia akan tiga kali lipat menjadi lebih dari 150 juta pada 2050. Dengan tidak adanya obat yang signifikan, peningkatan fokus pada perubahan gaya hidup yang berpotensi melindungi, seperti diet dan olahraga, dinilai sangat membantu. Tim AS menghitung skor risiko genetik pada awal penelitian menggunakan statistik genom luas Alzheimer.

Orang Eropa dan Afrika dibagi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil berdasarkan faktor-faktor ini. Mereka dengan risiko tertinggi termasuk orang-orang yang memiliki setidaknya satu salinan varian gen yang terkait dengan Alzheimer, bernama APOE e4.

Lebih dari seperempat (28 persen) orang Eropa membawa gen tersebut dan empat dari 10 orang keturunan Afrika juga membawa gen tersebut. Kelompok dengan risiko terendah memiliki mutasi yang dikenal sebagai APOE e2, yang sebelumnya dikaitkan dengan pencegahan demensia.

Untuk orang Eropa, orang dengan skor tertinggi dalam faktor gaya hidup memiliki risiko demensia yang lebih rendah di kelima kelompok genetik, termasuk mereka yang memiliki APOE e4. Di antara orang Afrika, pola serupa dari penurunan risiko demensia di ketiga kelompok muncul. Namun, Prof Tin dan rekan studi menunjukkan jumlah peserta lebih kecil dan membatasi temuan, sehingga diperlukan lebih banyak penelitian.

Pada akhir penelitian, 2.234 peserta mengembangkan demensia, termasuk 1.603 orang keturunan Eropa dan 631 orang keturunan Afrika. Saat ini, ada sekitar enam juta orang di AS dengan Alzheimer. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Neurology.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA