Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Virus Deltacron Benar-Benar Ada? Ini Pendapat Pakar

Rabu 19 Jan 2022 18:47 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Belum lama ini, ilmuwan di Cyprus melaporkan bahwa mereka menemukan varian Deltacron.

Belum lama ini, ilmuwan di Cyprus melaporkan bahwa mereka menemukan varian Deltacron.

Foto: www.pixabay.com
Belum lama ini, ilmuwan di Cyprus melaporkan bahwa mereka menemukan varian Deltacron.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belum lama ini, ilmuwan di Cyprus melaporkan bahwa mereka menemukan varian Deltacron. Akan tetapi, beberapa ahli mempertanyakan apakah Deltacron benar-benar sebuah varian baru.

Varian Deltacron pertama kali dilaporkan oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Dr Leondios Kostrikis dari Cyprus pada 7 Januari 2022. Varian tersebut diberi nama Deltacron karena tampak seperti kombinasi antara varian Delta dan Omicron.

Baca Juga

Dr Kostrikis mengatakan, varian Deltacron memiliki genom seperti Delta dan karakteristik seperti Omicron. Berdasarkan penelitian mereka, Dr Kostrikis mengatakan varian ini ditemukan pada 25 individu.

Temuan ini dengan cepat menjadi perbincangan hangat di media sosial hingga berita. Akan tetapi, sebagian ahli mempertanyakan temuan tersebut. Salah satu di antaranya adalah Direktur Covid-19 Genomics Initiative di Wellcome Sanger Institute Dr Jeffrey Barrett.

"(Varian) ini hampir pasti bukan rekombinan biologis dari garis keturunan lineage Delta dan Omicron," ujar Dr Barrett.

Hal senada juga diungkapkan oleh ahli virologi Dr Tom Peacock dari Imperial College London. Menurut Dr Peacock, varian Deltacron yang ditemukan oleh peneliti Cyprus merupakan hasil dari kontaminasi.

"Sekuen Deltacron yang dilaporkan beberapa media besar tampak cukup jelas sebagai kontaminasi," jelas Dr Peacock, seperti dilansir Medical News Today, Rabu (19/1/2022).

Dr Peacock mengatakan kontaminasi merupakan hal yang bisa terjadi sesekali di semua laboratorium sekuensing. Dengan kata lain, adanya kontaminasi bukan berarti laboratorium yang digunakan memiliki standar buruk.

Beberapa ahli lain juga mengungkapkan hal yang sama. Bila Deltacron benar-benar sebuah varian baru, sampel akan mengelompok pada cabang yang sama dari pohon filogenetik SARS-CoV-2. Namun, Deltacron tampak secara acak pada beberapa cabang berbeda, di mana hal ini dapat menjadi tanda dari suatu kontaminasi.

Terlepas dari pendapat beberapa ahli yang menyangsikan temuannya, Dr Kostrikis memiliki pembelaan. Dr Kostrikis mengatakan hipotesis mengenai kontaminasi kemungkinan tidak benar karena tingkat infeksi Deltacron lebih tinggi pada pasien yang dirawat di rumah sakit dibandingkan individu yang tak dirawat di rumah sakit.

Di samping itu, sampel-sampel yang diidentifikasi sebagai Deltacron diproses melalui beragam prosedur sekuensing di lebih dari satu negara. Hal ini menurunkan kemungkinan adanya kekeliruan dari pihak laboratorium.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA