Saturday, 20 Syawwal 1443 / 21 May 2022

Ahli Penemu Omicron: Ini Virus Paling Bermutasi

Selasa 30 Nov 2021 18:28 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Nora Azizah

Omicron disebut sebagai virus yang paling bermutasi yang pernah ditemukan.

Omicron disebut sebagai virus yang paling bermutasi yang pernah ditemukan.

Foto: www.pixabay.com
Omicron disebut sebagai virus yang paling bermutasi yang pernah ditemukan.

REPUBLIKA.CO.ID, DURBAN -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan bahwa bukti awal Omicron, varian varu Covid-19 atau dikenal dengan istilah B .1.1.529, memiliki sejumlah besar mutasi. Beberapa di antaranya punya karakteristik yang mengkhawatirkan. WHO pun melabeli varian yang pertama ditemukan di Afrika itu sebagai risiko global “sangat tinggi”.

Kali ini, ilmuwan penemu Omicron, Alex Sigal, menguji Omicron di laboraturium bio-hazard Africa Health Research Institute. Ini merupakan laborotarium bio bahaya dengan tingkat keamanan tinggi. Peneliti menanam Omicron hidup, dan diuji terhadap darah orang yang divaksinasi penuh. Virus juga diuji terhadap darah orang yang sebelumnya punya riwayat infeksi Covid-19.

Baca Juga

“Ini mungkin virus yang paling bermutasi yang pernah kami lihat,” kata Alex Sigal, yang juga pertama kali mengidentifikasi varian baru tersebut, seperti dilansir dari CBSNews, Selasa (30/11).

Varian Omicron memiliki lebih dari 50 mutasi dengan lebih dari 30 protein lonjakan yang meningkatkan kemampuan virus untuk menginfeksi tubuh.

"Ini lebih seperti Frankenstein daripada yang lain. Itu selalu sesuatu yang baru. Maksud saya, virus itu terus mengejutkan kita,” lanjut ahli virus tersebut.

Beberapa negara, termasuk AS, kini diketahui melarang perjalanan dari beberapa negara di Afrika selatan dalam upaya mencegah penyebaran. Tim Sigal bekerja sama dengan ilmuwan lain untuk mengetahui apakah varian tersebut lebih menular atau menurunkan kekebalan tubuh. Laboratorium telah menerima beberapa permintaan untuk sampel Omicron, yang sedang dikemas dan dikirim ke lembaga penelitian lain di seluruh negeri.

Para ilmuwan akan mengetahui dalam waktu sekitar 10 hari, apakah vaksinasi mampu menghentikan Omicron. Tetapi Sigal meyakini vaksin saat ini masih akan memberikan perlindungan terhadap penyakit parah dan rawat inap.

Namun Sigal memperingatkan bahwa selama Afrika tertinggal dalam vaksinasi, virus akan terus bermutasi. Omicron diketahui lebih banyak menginfeksi kaum muda di Afrika. Adapun dokter di Afrika Selatan jugga mengonfirmasi jika sebagian besar penderita yang terinfeksi memiliki gejala cukup ringan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA