Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Studi Sebut Covid-19 Dapat Turunkan Kecerdasan

Senin 02 Aug 2021 20:16 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Dwi Murdaningsih

Anak belajar di rumah (ilustrasi).

Anak belajar di rumah (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com
Covid-19 ditengarai bis menyebabkan gangguan konsentrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Infeksi SARS-CoV-2 dapat menyebabkan efek negatif yang besar pada kecerdasan penyintas Covid-19. Temuan terbaru ini selaras dengan adanya laporan gejala brain fog pada penyintas Covid-19 yang mengalami gejala berkepanjangan atau long Covid.

Temuan terbaru ini disampaikan oleh peneliti asal Inggris melalui sebuah studi yang dipublikasikan pada jurnal The Lancet. Studi berskala besar ini melibatkan data dari 81.337 orang yang menjalani Great British Intelligence Test pada 2020.

Di antara para partisipan tersebut, sekitar 13 ribu di antara terkena Covid-19. Dari partisipan yang terkena Covid-19, sebanyak 275 orang telah menyelesaikan tes sebelum dan setelah terkena infeksi.

Partisipan yang memiliki riwayat pernah terkena Covid-19 tampak lebih kesulitan dalam menyelesaikan beberapa jenis tugas dalam Great British Intelligence Test. Tugas-tugas tersebut berkaitan dengan penalaran, pemecahan masalah, dan penataan ruang.

Peneliti mengungkapkan bahwa temuan ini sejalan dengan adanya beragam laporan mengenai brain fog pada penyintas Covid-19 yang mengalami long Covid. Brain fog merupakan sebuah kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan berkonsentrasi dan kesulitan untuk menemukan kata-kata umum yang tepat.

"Pemulihan dari infeksi Covid-19 dapat berkaitan dengan masalah yang sangat menonjol dalam aspek fungsi 'eksekutif' dan fungsi kognitif yang lebih tinggi," jelas peneliti, seperti dilansir WebMD.

Seberapa buruk penurunan kognitif pada penyintas Covid-19 tampak berkaitan dengan seberapa serius infeksi yang mereka alami ketika sakit. Peneliti mengungkapkan bahwa penyintas Covid-19 yang sempat menjalani perawatan dengan ventilator ketika sakit tampak merasakan efek yang paling besar. Rata-rata skor IQ mereka menurun sebesar 7 poin.

Akan tetapi, ada beberapa kemampuan yang tampak tidak terpengaruh oleh riwayat Covid-19. Kemampuan yang tak terpengaruh tersebut adalah rentang memori kerja dan pemrosesan emosi.

Peneliti menilai tes pencitraan otak dibutuhkan sebelum mereka dapat menarik kesimpulan yang kuat. Terlepas dari itu, peneliti berspekulasi bahwa riwayat demam tinggi dan masalah pernapasan dapat berkontribusi pada penurunan kognitif di sebagian penyintas Covid-19.

Studi ini dinilai telah memberikan wawasan baru terkait kondisi long Covid. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengungkapkan bahwa long Covid dapat memunculkan gejala yang beragam selama beberapa bulan setelah infeksi SARS-CoV-2 terjadi.

Brain fog atau kesulitan berpikir dan berkonsentrasi merupakan salah satu gejala long Covid yang telah dikenali. Beberapa gejala long Covid lain adalah sesak napas, sakit kepala, nyeri otot atau sendi, dan pening.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA