Wednesday, 9 Ramadhan 1442 / 21 April 2021

Wednesday, 9 Ramadhan 1442 / 21 April 2021

Pentingnya Deteksi Dini Prediabetes Orang Obesitas

Jumat 05 Mar 2021 19:28 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Obesitas (Ilustrasi)

Obesitas (Ilustrasi)

Foto: Foxnews
Perlu sekali screening prediabetes pada orang obesitas dan overweight.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok Mardi Santoso menekankan pentingnya deteksi dini prediabetes. Terutama bagi orang-orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas.

"Perlunya screening prediabetes pada orang obesitas dan overweight. Deteksi dini penting sekali," kata Mardi, di acara seminar daring bertajuk Cerdas Baca Label Kemasan, Hindari Risiko Obesitas, Kamis (4/3).

Untuk mengetahui apakah seseorang terkena prediabetes, orang tersebut perlu memeriksakan kadar gula darahnya. Dari data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kementerian Kesehatan, jumlah penderita prediabetes usia muda di Indonesia pada 2018 mencapai 57,1 persen dari total penderita prediabetes.

Baca Juga

Prediabetes adalah penderita dengan toleransi gula darah terganggu atau gula darah puasa terganggu atau ada gangguan di keduanya.Mardi menyebut bahwa kebanyakan penderita prediabetes adalah mereka yang obesitas.

Gejala prediabetes adalah bila mengalami salah satu dari gejala seperti banyak makan, banyak minum, banyak kencing, berat badan menurun drastis dan mengalami lemas."Orang dengan prediabetes satu saja gejalanya obesitas dan lemas, makannya banyak yang enak-enak," katanya.

Dia menambahkan terapi untuk penderita prediabetes antara lain pengaturan komposisi makanan agar pasien mencapai berat badan ideal dan olah raga dengan durasi 150 menit per minggu. Bila upaya tersebut kurang efektif, maka pasien harus mengkonsumsi obat.

Sementara untuk menurunkan angka penyakit tidak menular akibat obesitas dan kelebihan berat badan, perlu peranan Kementerian Kesehatan, tokoh masyarakat dan perusahaan-perusahaan makanan. Mardi menyebut di negara-negara lain, pencegahan tidak hanya dilakukan pada penyakit akibat obesitas, tetapi mereka melakukan upaya pencegahan obesitas dan kelebihan berat badan.

Ada sejumlah risiko akibat obesitas antara lain prediabetes, diabetes mellitus, penyakit kardiovaskuler. Selain itu juga sindrom metabolik, gangguan lemak darah, kekentalan darah naik, trombosit menumpuk, kerusakan pembuluh darah, gangguan kesuburan, hipertensi dan kanker.

"Risiko obesitas itu macam-macam diantaranya penyakit kardiovaskuler, ada stroke, penyempitan pembuluh darah, jantung koroner, kaki pincang, syaraf matanya kena retinopati. Lalu kanker. Jadi sel-sel lemak itu mudah berubah jadi keganasan. Jadi orang gemuk itu ternyata tidak menunjukkan kemakmuran, justru berisiko terkena penyakit tidak menular," paparnya.

Dia menyebut selama rentang 2007 - 2018, berat badan berlebih dan obesitas pada dewasa berusia > 18 tahun cenderung mengalami peningkatan di Indonesia. Pada 2018, tercatat obesitas tertinggi ada di Sulawesi Utara dengan 21,8 persen.

Obesitas adalah keadaan dimana indeks massa tubuh (IMT) > 23 - 24,9. Indikator berat badan berlebih pada dewasa yakni jika IMT 25 s.d. 27. Sementara obesitas pada dewasa yakni bila IMT lebih dari 27.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA