Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Setelah Dirawat 196 Hari, Ibu 67 Tahun Selamat dari Covid-19

Selasa 20 Oct 2020 03:31 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Reiny Dwinanda

Virus corona (ilustrasi). Seorang warga AS sembuh dari Covid-19 setelah diopname 196 hari, salah satu periode terlama kasus pasien dirawat di rumah sakit akibat infeksi virus SARS-CoV-2

Virus corona (ilustrasi). Seorang warga AS sembuh dari Covid-19 setelah diopname 196 hari, salah satu periode terlama kasus pasien dirawat di rumah sakit akibat infeksi virus SARS-CoV-2

Foto: www.freepik.com
Ibu asal Michigan, AS sempat kritis akibat Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, MICHIGAN -- Deanna Hair dari Michigan, Amerika Serikat akhirnya bisa kembali ke rumahnya setelah pulih dari Covid-19. Ibu berusia 67 tahun itu sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama 196 hari, salah satu periode terlama kasus seorang pasien dirawat di rumah sakit karena infeksi virus SARS-CoV-2.

"Itu benar-benar mengubah hidup saya. Keseluruhan proses, mulai dari merasa sakit dan pergi ke rumah sakit hingga pemulihan dan rehabilitasi menggunakan ventilator, semuanya begitu menguras tenaga," jelas Deanna seperti dikutip dari NBC News, Senin (19/10).

Deanna pertama kali melaporkan gejalanya setelah kembali dari perjalanan ke Kalifornia pada pertengahan Maret. Ia dan suaminya Ken Hair dinyatakan positif Covid-19 pada 31 Maret. Namun, kala itu suaminya hanya mengalami gejala ringan, sementara Deanna merasa demam, batuk, dan muntah.

Tiga hari kemudian, Deanna dirawat di Michigan Medicine, di mana dia didiagnosis menderita kolitis iskemik atau radang usus besar.

"Kondisi ini disebabkan oleh aliran darah yang berkurang ke usus besar dan untuk Deanna, ahli bedah harus mengambil usus besarnya,” kata Philip Choi, seorang dokter ahli paru yang menangani Deanna.
 
Menurut Choi, penelitian telah menunjukkan bahwa pasien Covid-19 dalam kondisi kritis dapat mengalami pembekuan pada pembuluh darah besar. Dia mencurigai adanya kaitan antara peradangan dan Covid-19.

Deanna dibius dan dipasangi ventilator selama dua setengah bulan sementara keluarganya menunggu dengan khawatir. Selama perawatan, Deanna juga menderita beberapa infeksi di dada dan perutnya dan didiagnosis dengan sepsis hingga gagal ginjal.

Suami Deanna dan ketiga putrinya dilarang menemuinya karena aturan protokol kesehatan. Ken selalu terbayang istrinya akan berpulang karena Covid-19 dan itu akan menjadi pengalaman traumatis bagi keluarganya.

"Saya pikir dia akan mati. Kami dipanggil dalam tiga waktu terpisah untuk mengucapkan perpisahan terakhir kami, setiap kali yakin itu yang terakhir, tapi entah bagaimana dia bertahan dan berhasil," kata Ken (71 tahun).

Pada Juni, Deanna dinyatakan negatif Covid-19 dua kali berturut-turut dan dipindahkan dari unit perawatan intensif virus corona khusus ke unit biasa.  Saat kondisinya berangsur membaik, dia dipindahkan dari ICU ke rumah sakit utama.

"Ketika saya berjuang untuk hidup saya, keluarga saya ada di sana setiap hari mendukung saya. Itu adalah dedikasi dan cinta, memiliki seseorang yang menyemangati saya, secara virtual atau fisik, dan memegang tangan saya ketika saya dalam kondisi terburuk," ungkapnya.

Pada bulan September, Deanna memulai rehabilitasi rawat inap. Kemudian setelah 196 hari, dokternya memutuskan bahwa dia cukup kuat untuk pulang.

Ketika ditanya tentang nasihatnya untuk orang lain, Deanna mengingatkan untuk mencegah penularan Covid-19 sekuat tenaga.

"Corona adalah virus mematikan yang membunuh. Anda tidak boleh meremehkannya, Anda harus berhati-hati, memakai masker, mencuci tangan, mempraktikkan jaga jarak lalu menjaga dirimu dan orang yang kamu cintai," katanya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA