Sunday, 3 Safar 1442 / 20 September 2020

Sunday, 3 Safar 1442 / 20 September 2020

Indra Perasa Tumpul, Kapan Penyintas Covid-19 Pulih Total?

Rabu 12 Aug 2020 10:59 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Reiny Dwinanda

Lidah. Kemampuan indra perasa bisa jadi masih belum pulih meski orang sudah menjadi penyintas Covid-19.

Lidah. Kemampuan indra perasa bisa jadi masih belum pulih meski orang sudah menjadi penyintas Covid-19.

Foto: menshealth.com/gettyimages
11 persen penyintas Covid-19 kehilangan indra perasanya secara temporer.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Greg Shuluk (29 tahun) salah satu penduduk Westchester, New York, AS terjangkit Covid-19 pada Maret lalu. Dia mengenang, demam, batuk, dan hilangnya indra perasa serta penciuman menjadi gejala awal yang dirasa.

Baca Juga

"Saya tahu jika ada makanan manis atau asin, tapi makanan saya terasa sangat hambar sekarang. Saya tidak bisa benar-benar merasakannya. Saya terobsesi dengan makanan laut. Saya pergi membeli lobster dan memasaknya dan hampir tidak bisa mencicipinya," kata Shuluk dikutip Fox News, Rabu (12/8).

Shuluk nyatanya bukan satu-satunya penyintas Covid-19 yang kehilangan indra perasa dan penciuman. Menurut informasi yang didapatnya, dokter mengatakan bahwa indra perasa dan penciuman itu masih belum jelas bagaimana dan kapan bisa kembali ke kondisi normal, seperti sebelum mereka kena Covid-19.

Tak hanya itu, menurut penelitian yang diterbitkan pada Juli di JAMA Otolaryngology – Head & Neck Surgery, memang ada sekitar 11 persen pasien Covid-19 yang yang tiba-tiba indra perasanya jadi tumpul. Laporan juga menjelaskan, rata-rata pasien Covid-19 mengalami itu bisa lebih dari sebulan.

Lebih jauh, sebuah studi terpisah yang diterbitkan pada Juli di jurnal medis The Laryngoscope menemukan bahwa hilangnya kemampuan penciuman yang terkait dengan Covid-19 dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko kecemasan dan suasana hati yang tertekan. Penelitian itu memperkirakan, efek bisa terjadi akibat interaksi virus corona dengan sistem saraf pusat.

Dokter darurat di Lenox Hill Hospital di New York City, Dr Robert Glatter mengatakan, kebanyakan orang yang mengalami gejala itu akan kembali merasakannya dalam beberapa hari. Namun, ada yang bisa mencapai dua hingga enam pekan, bahkan tak jarang juga yang bisa lebih lama atau biasa disebut sebagai anosmia.

"Ada kemungkinan yang sangat kecil bahwa ini dapat bertahan lebih lama atau mungkin menjadi masalah kronis. Jika hal ini terjadi, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter Anda, ” kata dia.

Menurut Glatter, sejumlah virus pada dasarnya memang bisa menyebabkan hilangnya kemampuan indra penciuman dan perasa sementara. Tetapi, biasanya itu akan kembali membaik dalam beberapa hari atau pekan ketika virus dinetralisir.

"Kami tidak tahu jadwal yang tepat untuk pemulihan rasa dan bau. Kami harus memantau mereka dalam jangka waktu yang lebih lama untuk lebih memahami peran peradangan kronis dalam gejala dan pemulihan mereka," jelas Glatter.

Untuk mengatasi keterbatasan indra pada pasien, dokter saat ini dapat melakukan sejumlah tes pada pasien yang mengalami hilangnya gejala indra perasa ataupun penciuman yang  berlangsung lama. Langkah itu dilakukan dengan meminta pasien membandingkan bau yang berbeda dan mengamati anatomi penciuman mereka melalui MRI, dari hidung dan rongga mulut.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA