Sunday, 3 Safar 1442 / 20 September 2020

Sunday, 3 Safar 1442 / 20 September 2020

Studi: Jaga Jarak Efektif Cegah 1,5 Juta Kasus Covid-19

Selasa 04 Aug 2020 00:35 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Ratusan jamaah haji bertawaf mengelilingi Kabah dengan menjaga jarak sosial  di Masjidil Haram di kota suci Muslim Makkah, Arab Saudi, Rabu (29/7/2020). Aturan jaga jarak fisik yang diterapkan di banyak negara terbukti membantu menekan angka kasus Covid-19.

Ratusan jamaah haji bertawaf mengelilingi Kabah dengan menjaga jarak sosial di Masjidil Haram di kota suci Muslim Makkah, Arab Saudi, Rabu (29/7/2020). Aturan jaga jarak fisik yang diterapkan di banyak negara terbukti membantu menekan angka kasus Covid-19.

Foto: AP
Peneliti menganalisis penyebaran Covid-19 sebelum-setelah kebijakan jaga jarak.

REPUBLIKA.CO.ID, HOUSTON -- Praktik menjaga jarak sosial atau social distancing yang selama ini telah diterapkan masyarakat bukan sesuatu yang sia-sia. Menurut studi yang digagas tim peneliti dari Universitas Texas (UT) MD Anderson, praktik tersebut efektif mencegah penularan kasus Covid-19.

Penelitian menganalisis penyebaran virus corona sebelum dan sesudah adanya kebijakan pemerintah di 46 negara yang memberlakukan aturan menjaga jarak fisik dan sosial. Aturan-aturan tersebut membantu mengekang kedekatan fisik orang dan mencegah lebih dari 1,5 juta kasus hanya dalam waktu dua pekan.

"Senang mengetahui bahwa orang-orang saling mengingatkan tentang jarak sosial dan beberapa analisis berbasis data menunjukkan dampak dalam beberapa bulan terakhir. Pada kenyataannya, ini menurunkan tingkat infeksi," kata dr Raghu Kalluri, profesor biologi kanker di UT MD Anderson.

Baca Juga

photo
Sejumlah pengunjung berjaga jarak fisik saat melihat pameran karya pelukis Hanafi berjudul 60 tahun dalam studio di Galerikertas, Depok, Jawa Barat, Ahad (5/7/2020).  - (ANTARA/ASPRILLA DWI ADHA)

Hasil temuan tersebut dapat membantu pemerintah di negara-negara seluruh dunia dalam pembuatan kebijakan lebih lanjut, termasuk Amerika Serikat yang terdampak paling parah. Pasalnya, belum ada vaksin atau pengobatan yang sudah benar-benar terbukti  meluas mengatasi virus corona jenis baru itu.

Sejak pandemi virus corona bermula pada pekan terakhir Desember 2019, para ahli menemukan bahwa virus tersebut dapat menyebar dari percikan bersin dan batuk orang yang terinfeksi. Sejumlah protokol seperti mencuci tangan dan menjaga jarak aman satu sama lain direkomendasikan sebagai tindakan pencegahan.

Orang-orang diminta menjaga jarak sejauh enam kaki atau sekitar dua meter, serta menghindari kerumunan dan tempat-tempat yang ramai. Pemakaian masker menjadi hal wajib di banyak negara, ditunjang dengan face shield sebagai pelengkap agar lebih aman, dikutip dari laman Times Now News.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA