Kamis, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Kamis, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Kegiatan Bersih-Bersih Bantu Pulihkan Kesehatan Mental

Ahad 24 Mar 2019 20:15 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadhani/ Red: Christiyaningsih

Mencuci piring dengan tangan menggunakan air lebih banyak daripada kebanyakan mesin cuci piring modern.

Mencuci piring dengan tangan menggunakan air lebih banyak daripada kebanyakan mesin cuci piring modern.

Foto: ABC
Mencuci piring meredakan kegugupan hingga 27 persen

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kegiatan bersih-bersih, mulai dari mencuci piring hingga membuang benda-benda yang tak digunakan, tak hanya dapat membuat rumah terlihat lebih rapi. Kegiatan seperti ini juga memberi manfaat tersendiri bagi kesehatan mental.

Sebuah studi berskala kecil dalam jurnal Mindfulness mengungkap mencuci piring dapat menurunkan kegugupan hingga 27 persen dan meningkatkan inspirasi mental hingga 25 persen. Dampak ini dirasakan para partisipan penelitian ketika mencuci piring dengan penuh kesadaran atau mindfulness.

Artinya, saat mencuci piring para partisipan berfokus pada kegiatan mencuci yang mereka lakukan. Mereka bahkan meluangkan waktu untuk menghirup aroma sabun dan merasakan kehangatan air melalui kulit mereka.

Studi lain yang dilakukan University of Connecticut pada 2015 menunjukkan rasa cemas yang berlangsung sementara cenderung membuat seseorang melakukan kegiatan bersih-bersih dengan lebih cermat. Tim peneliti menilai orang-orang cenderung melakukan perilaku repetitif seperti bersih-bersih ketika merasakan stres karena ingin memegang kontrol akan sesuatu.

"Kita ingin bisa melakukan sesuatu ketika kita merasa cemas, dan apa yang sangat kita inginkan adalah memegang kontrol dan melakukan tindakan," ungkap psikolog klinis Alicia H. Clarck seperti dilansir Good Housekeeping.

Menjaga kondisi rumah tetap rapi juga dapat memberi manfaat tersendiri bagi orang-orang yang bergelut dengan masalah kesehatan mental. Clarck mengatakan orang-orang memiliki banyak pikiran dan melihat lingkungannya dipenuhi dengan barang-barang atau debu, hal tersebut akan memberikan perasaan negatif.

"Itu dapat membuat kita merasa terjebak di satu tempat dan tidak bisa bergerak," jelas Clarck.

Ruangan yang disesaki dengan berbagai barang-barang seringkali dikaitkan dengan emosi negatif oleh alam bawah sadar. Emosi-emosi negatif ini meliputi kebingungan, ketegangan, sikap mudah marah, hingga kekhawatiran. Sebaliknya, alam bawah sadar kerap mengaitkan ruang yang bersih dengan emosi positif seperti kebahagiaan, ketenangan, dan kesejahteraan menurut psikolog Sherrie Bourg Carter.

"Dalam pikiran kita, kita melihat barang-barang yang bertumpuk atau berantakan sebagai pekerjaan yang belum selesai, dan ketidaklengkapan ini meresahkan serta memicu stres bagi kebanyakan orang," terang Carter.

Baik Clark maupun Carter menyarankan agar tiap orang dapat meluangkan waktu setidaknya 10 menit per hari untuk bersih-bersih atau membuang barang-barang menumpuk yang tak lagi dipakai. Kegiatan membuang barang-barang menumpuk yang sudah jarang dipakai ini dikenal sebagai decluttering.

"Anda akan terkejut dengan seberapa besar yang bisa Anda capai (dalam 10 menit)," terang Clark.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA