Monday, 24 Rabiul Akhir 1443 / 29 November 2021

Monday, 24 Rabiul Akhir 1443 / 29 November 2021

BSI Siap Jadi Pendorong Utama Pertumbuhan Ekonomi Syariah

Ahad 24 Oct 2021 18:02 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Gita Amanda

 PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menyatakan siap menjadi pemain utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Tanah Air. (ilustrasi)

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menyatakan siap menjadi pemain utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Tanah Air. (ilustrasi)

Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Indonesia harus menjadi pusat gravitasi ekonomi syariah global di masa datang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menyatakan siap menjadi pemain utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Tanah Air. Hal ini seiring dengan visi pemerintah bahwa Indonesia harus menjadi pusat gravitasi ekonomi syariah global di masa datang.

Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengungkapkan kesiapan pihaknya menjadi pemain kunci dalam mendongkrak pertumbuhan itu tak terlepas dari memanfaatkan potensi ekonomi syariah dalam negeri. BSI juga sudah memiliki kapabilitas mumpuni untuk menggarap potensi itu.

"Kami bukan hanya ingin handal dalam perbankan syariah saja, kami ingin optimalkan potensi yang ada untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia secara merata," katanya, Ahad (24/10).

Menurut data, CAGR lima tahun terakhir kinerja penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) di industri perbankan syariah Indonesia mencapai 13,8 persen. Penetrasi aset keuangan syariah di Indonesia masih kecil yaitu sekitar tiga persen dari PDB sehingga peluangnya bisa terus digali.

Ada potensi 200 juta nasabah yang memanfaatkan jasa keuangan ritel. Contohnya untuk keperluan perjalanan umrah, haji, hingga perawatan kesehatan, serta layanan transaksi sosial zakat, infak, sedekah dan wakaf (Ziswaf).

Potensi industri halal di Indonesia nilainya kurang lebih Rp 4.375 triliun. Dari total nilai tersebut, Industri makanan dan minuman halal menyedot porsi terbanyak yaitu senilai Rp 2.088 triliun disusul aset keuangan syariah senilai Rp 1.438 triliun.

Herry yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) mengatakan, prospek pertumbuhan industri perbankan syariah masih sangat baik kendati laju ekonomi masih terganggu pandemi Covid-19. Pada Juli 2021 aset perbankan syariah di Tanah Air tumbuh sekitar 16,35 persen dari Juni 2021, pembiayaan tumbuh 6,82 persen dan DPK tumbuh 17,98 persen.  

"Ini tanda yang positif, artinya masyarakat sudah melirik perbankan syariah karena cukup kompetitif," kata Hery.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA