Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Jokowi: Ekonomi Syariah Motor Penggerak Pertumbuhan Nasional

Rabu 15 May 2019 01:00 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Nidia Zuraya

Ekonomi syariah (ilustrasi)

Ekonomi syariah (ilustrasi)

Foto: aamslametrusydiana.blogspot.com
Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu negara dengan ekonomi terkuat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi meluncurkan Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia (MEKSI) 2019-2024. Dokumen ini merupakan pedoman bagi pemerintah, pelaku bisnis, dan penggerak ekonomi syariah selama lima tahun ke depan untuk dapat menjadi pelaku utama ekonomi syariah dunia.

Baca Juga

Presiden menyebutkan, Indonesia memiliki peluang besar untuk bertransformasi menjadi salah satu negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada 2045 mendatang. Pernyataan tersebut, menurutnya, didukung sejumlah studi yang telah dilakukan baik di dalam maupun luar negeri.

"Tapi untuk menuju ke sana juga bukan barang yang mudah. Banyak tantangan, banyak persoalan besar yang harus kita selesaikan," kata Presiden, Selasa (14/5).

Kepala Negara melanjutkan, salah satu kunci utama untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi syariah terbesar dunia adalah jumlah penduduk Muslim yang berbanyak di dunia. Presiden berkeyakinan, majunya ekonomi syariah akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan penyejahteraan umat.

"Kunci itu adalah ekonomi syariah. Ekonomi syariah sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional, ekonomi syariah sebagai sumber kesejahteraan umat," ujarnya.

Di tingkat dunia, ekonomi syariah memiliki sumbangan ekonomi global yang sangat besar. Tahun 2023 mendatang, menurut Global Islamic Economy, sumbangsih ekonomi syariah diperkirakan akan bernilai setidaknya 3 triliun dolar AS. Hal itu, kata Jokowi, merupakan potensi yang harus dapat dimanfaatkan oleh negara kita.

"Sayangnya, ini menurut Global Islamic Economy Indicator, di tahun 2018 Indonesia masih menempati urutan yang ke-10 dalam peringkat negara-negara yang menyelenggarakan ekonomi syariah," katanya.

Kekuatan ekonomi syariah Indonesia masih bertengger di peringkat 10 dunia, di belakang Malaysia, Uni Emirat Arab, Bahrain, Arab Saudi, Oman, Jordan, Qatar, Pakistan, dan Kuwait. Jokowi berharap peta jalan ekonomi syariah yang diluncurkan menjadi batu loncatan untuk membangkitkan potensi ekonomi syariah di Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah terkemuka di dunia.

"Karena kita memang negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia," kata Presiden.

MEKSI 2019-2024 merumuskan empat langkah dan strategi utama untuk mewujudkan hal tersebut. Pertama, menguatkan rantai nilai halal dengan fokus pada sektor yang dinilai potensial dan berdaya saing tinggi. Kedua, menguatkan sektor keuangan syariah di dalam negeri.

Adapun yang ketiga ialah menguatkan sektor UMKM sebagai penggerak utama rantai nilai halal tersebut. Sementara yang keempat dengan menguatkan ekonomi digital yang utamanya melalui perdagangan elektronik sehingga mendorong pencapaian strategi keuangan syariah lainnya.

"Kita akan terus menguatkan rantai nilai halal dengan fokus pada sektor makanan dan minuman, fesyen, pariwisata, media, rekreasi, serta farmasi dan kosmetika. Sebagai pendukungnya kita akan kuatkan keuangan syariah, kita akan terus kuatkan UMKM kita, kita kuatkan ekonomi digital kita," ujar Presiden.

Dengan MEKSI 2019-2024 yang telah dirumuskan tersebut, Presiden berharap agar seluruh pihak memiliki semangat dan visi yang sama dalam mengimplementasikan kebijakan pengembangan ekonomi syariah Indonesia untuk mencapai tujuan yang telah dicita-citakan.

"Saya yakin insyaallah bahwa ketika kita semua berkomitmen menjalankan masterplan ekonomi syariah Indonesia ini maka Indonesia akan segera menjadi pusat ekonomi syariah di dunia," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA