Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Pariwisata Halal Indonesia Paling Progresif di Kancah Global

Selasa 09 Apr 2019 14:08 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda

Ilustrasi Wisata Halal

Ilustrasi Wisata Halal

Foto: Foto : MgRol112
Pertumbuhan wisata halal Indonesia salah satunya berkat birokrasi yang mempermudah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Global Muslim Travel Muslim Index (GMTI) 2019 menobatkan Indonesia di peringkat pertama sebagai tujuan pariwisata halal dunia. Posisi ini diraih setelah lima tahun upaya pengembangan wisata halal Indonesia. Pada 2015, Indonesia masih menduduki peringkat keenam.

Baca Juga

GMTI diukur oleh lembaga pemeringkat internasional Crescent Rating bekerja sama dengan perusahaan teknologi pembayaran Mastercard. CEO Crescent Rating, Fazal Bahardeen menyampaikan Indonesia menjadi negara yang paling pesat pertumbuhan wisata halalnya di dunia.

"GMTI menilai 130 destinasi secara global, baik negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mau pun negara-negara non-OKI," kata Fazal, dalam peluncuran laporan GMTI 2019 di Pullman Hotel, Jakarta, Selasa (9/4).

Indonesia menduduki posisi pertama untuk negara OKI bersanding dengan Malaysia yang mempertahankan posisinya. Posisi selanjutnya diikuti oleh Turki, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Maroko, Bahrain, Oman, dan Brunai.

Sementara untuk negara non-OKI, peringkat pertama wisata halal diduduki oleh Singapura. Diikuti oleh Thailand, Inggris, Jepang, Taiwan, Afrika Selatan, Hong Kong, Korea Selatan, Prancis, Spanyol, dan Filipina.

Direktur Utama Mastercard, Tommy Singgih mengatakan Indonesia adalah satu-satunya negara yang sangat progresif. Hal ini, kata dia, berkat usaha dan komitmen pemerintah yang menggalakkan wisata halal, salah satunya dengan penetapan 10 tujuan prioritas wisata halal.

"Indonesia juga memiliki penetapan rating Muslim Travel Index (IMTI) sejak tahun lalu untuk mendorong pengembangan destinasi halal," kata dia pada kesempatan yang sama. 

Skala pengukurannya sama seperti GMTI dengan penyesuaian kondisi di lapangan. Pada 2015 Indonesia berada di peringkat ke enam, setahun kemudian naik ke posisi empat. Pada 2017, Indonesia berada di posisi tiga, 2018 naik ke posisi dua dan kini 2019 meraih posisi pertama. 

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan berdasarkan data kedatangan wisatawan mancanegara, Indonesia tumbuh di atas rata-rata wilayah. Pada 2018 pertumbuhannya mencapai 22 persen. Sementara Malaysia turun empat persen. 

Negara lain di Asia rata-rata hanya tumbuh tujuh persen dan wisata halal dunia 6,4 persen. Hanya Vietnam yang mengungguli Indonesia dengan pertumbuhan 29 persen selama 2018.

Arief mengatakan pertumbuhan wisata halal Indonesia salah satunya berkat birokrasi yang mempermudah. "Musuh terbesar negara berkembang itu adalah birokrasi, kita bisa melesat karena memangkas itu," kata Arief.

Ia mengatakan Indonesia memiliki 20 ribu regulasi yang terkait pariwisata. Beberapa diantaranya menyulitkan sehingga industri tidak bisa bergeral cepat. Arief mengatakan negara lain bisa berkembang pesat juga karena mempermudah regulasi yang ada.

Tahun ini, pemerintah melancarkan sejumlah upaya untuk mencapai target penerimaan devisa tertinggi dari pariwisata. Pemerintah menargetkan devisa pariwisata sebesar 20 miliar dolar AS. Meski demikian, Arief menaksir realisasinya sekitar 18 miliar dolar AS.

"Dari target itu, kita upayakan sebanyak 25 persennya berasal dari sektor wisata halal," kata dia.

Indonesia membangun 15 bandara baru dan memperpanjang 27 landasan pacu untuk menambah akses ke dalam negeri. Untuk mencapai 20 juta wisman, Indonesia perlu menambah 2,6 juta kursi penerbangan dari 19,5 juta kursi penerbangan mancanegara.

Selain itu meningkatkan konektivitas wilayah dengan kereta. Pemerintah menambah 232 rute meliputi daerah di jawa dan Sumatera pada 2018. Beberapa waktu lalu, pemerintah juga menerapkan bebas visa untuk 169 negara. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA