Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Alasan Investor Memburu Sukuk Ritel SR-011

Rabu 27 Mar 2019 15:54 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Dwi Murdaningsih

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman meberikan sambutan pada acara peluncuran Sukuk Negara Ritel Seri SR-011 di Jakarta, Jumat (1/3).

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman meberikan sambutan pada acara peluncuran Sukuk Negara Ritel Seri SR-011 di Jakarta, Jumat (1/3).

Foto: Republika/Prayogi
Sukuk Ritel 011 menawarkan imbal hasil di atas rata-rata deposito.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sukuk ritel seri SR-011 laris manis diserbu masyarakat. Pengamat Ekonomi Syariah, Azis Setiawan mengatakan SR-011 bisa diserbu masyarakat karena menawarkan fitur yang di atas rata-rata pasar.

Baca Juga

"Imbal hasilnya lebih jauh lebih besar di atas deposito, tidak berisiko karena dikeluarkan oleh negara," kata dia pada Republika.co.id, Selasa (26/3).

Keuntungan yang ditawarkan membuat masyarakat tertarik untuk membelinya. Selain itu, tingkat edukasi yang mumpuni membuat penjualannya melebihi target.

Meski demikian, Azis melihat hal ini menjadi tantangan bagi sektor swasta. Ada kecenderungan migrasi dana terutama dari perbankan. Peluncuran surat berharga negara yang jauh lebih banyak dari 2018 harus diantisipasi oleh sektor keuangan lain.

Azis mengatakan frekuensi peluncuran yang meningkat tahun ini merupakan penyesuaian pada kebutuhan dana pemerintah. Baik dari banyaknya surat utang yang jatuh tempo, kebutuhan APBN, mau pun untuk menurunkan defisit.

"Selain itu, sukuk lebih banyak keluar karena kata 'utang' itu sudah sensitif, sukuk kesannya lebih halus daripada surat utang atau obligasi," kata dia.

Sukuk juga terkesan lebih religius sehingga bisa meminimalisasi risiko antipati masyarakat. Bagi pemerintah, surat berharga negara juga memberi peluang kestabilan di pasar. Sumber dana dari masyarakat domestik ritel bisa membantu memperdalam pasar.

Sebab, saat ini, sebagian besar surat berharga negara masih dikuasai oleh pihak asing. Sehingga ketika muncul ketidakstabilan global, dana asing bisa dengan mudahnya keluar sehingga membawa gonjang ganjing pada pasar domestik.

"Meski belum bisa sepenuhnya menyelamatkan pasar, setidaknya bisa meminimalisasi risiko," kata dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA