Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Peningkatan CASA untuk Turunkan Pricing Bank Syariah

Rabu 13 Mar 2019 05:45 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda

Bank Syariah Mandiri

Bank Syariah Mandiri

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Memanfaatkan transactional banking adalah upaya untuk meningkatkan CASA.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Ekonomi Syariah, Adiwarman Karim menyampaikan bank syariah perlu meningkatkan transactional banking agar bisa menekan biaya atau pricing. Selama ini pasar masih menghindari perbankan syariah karena anggapan pricing yang mahal.

Baca Juga

Adiwarman mengatakan cara menekan pricing yakni dengan meningkatkan proporsi CASA atau dana murah yang lebih tinggi daripada deposito dalam Dana Pihak Ketiga (DPK). Ia menyarankan porsi tabungan dan giro bank syariah sebaiknya mencapai 50-55 persen dari total DPK agar bisa kompetitif dengan perbankan konvensional.

"Bank syariah itu kalau bisa minimal 50-55 persen CASA-nya," kata dia pada Republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Dengan proporsi tersebut, cost of fund bisa turun jadi sekitar 3,5 persen. Sehingga margin pembiayaan tidak akan jauh berbeda dengan bunga kredit di perbankan konvensional yang CASA-nya telah mencapai di atas 70 persen.

Adiwarman mengatakan salah satu cara meningkatkan CASA adalah memanfaatkan transactional banking. Nasabah perlu merasa nyaman menggunakan produk bank syariah sehingga mereka mau melakukan transaksi lebih banyak.

"Transaksional harus bisa dipakai dimana-mana, kalau ini belum jalan masih sulit," kata dia.

Bank Syariah Mandiri menggunakan strategi ini untuk peningkatan CASA pada 2018 dan akan melanjutkannya pada 2019. Direktur Keuangan dan Strategi Mandiri Syariah Ade Cahyo Nugroho menyampaikan Mandiri Syariah akan terus fokus pada penghimpunan dana murah dan melanjutkan fitur-fitur digital bank untuk meningkatkan transaksi. 

"Kami paham dunia keuangan sudah berubah dengan hadirnya fintech, maka bank harus berbenah dengan menyediakan fitur yang sesuai kebutuhan nasabah," kata Cahyo dalam paparan kinerja 2018 Mandiri Syariah, Senin (11/3).

Dari sisi segmen, perusahaan tetap fokus pada segmen ritel. Saat ini fitur yang telah dikembangkan adalah QR Pay dan layanan crowdfunding. Cahyo meyakini bahwa salah satu ciri khas kaum milenial adalah peduli dan berbagi.

Sehingga perusahaan menghadirkan fitur wakaf digital melalui mobile banking dan web khusus. Sebelumnya fitur pembayaran zakat juga sudah hadir lewat mesin ATM dan mobile. 

Direktur Utama Mandiri Syariah, Toni EB Subari menyampaikan peningkatan layanan digital telah terbukti meningkatkan jumlah transaksi sehingga ada perbaikan pricing. Cost of fund terpantau turun dari 3,55 persen pada 2017 menjadi 3,31 persen per Desember 2018. 

Hal ini dipengaruhi CASA yang meningkat menjadi Rp 44,46 triliun, tumbuh 10,1 persen (yoy) dan porsinya mencapai 50,82 persen dari total DPK yang dihimpun. DPK sendiri tumbuh sebesar 12,30 persen (yoy) dari Rp 77,90 triliun per Desember 2017 menjadi Rp 87,47 triliun pada Desember 2018. 

Dengan penambahan 759 ribu rekening baru, total rekening nasabah Mandiri Syariah per Desember 2018 menjadi 7,99 juta rekening. Tahun 2019, Cahyo menargetkan Mandiri Syariah bisa meningkatkan porsi CASA menjadi 53-54 persen. 

Untuk penguatan digital, Mandiri Syariah menyiapkan anggaran pengeluaran untuk pengembangan IT sebesar Rp 270 miliar. Tahun lalu realisasi capex digital sebesar Rp 190 persen, naik 30 persen dari 2017. 

"Selain dengan perkuat platform digital, juga akan memperkuat komunikasi pada pasar, sosialisasi tentang perbankan syariah, penguatan organisasi," kata Toni.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA