Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Pasar Syariah Miliki Daya Tahan di Tengah Gejolak Global

Rabu 10 Oct 2018 18:46 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolanda

Penawaran Investasi Indonesia. Menteri BUMN Rini Soemarno, Menkeu Sri Mulyani, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (dari kiri) berfoto di akhir  Indonesia Invesment Forum 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10).

Penawaran Investasi Indonesia. Menteri BUMN Rini Soemarno, Menkeu Sri Mulyani, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (dari kiri) berfoto di akhir Indonesia Invesment Forum 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10).

Foto: Republika/ Wihdan
Pasar syariah fokus pada ritel.

REPUBLIKA.CO.ID, BADUNG -- Pasar syariah dinilai memiliki ketahanan di tengah gejolak ekonomi global. Untuk itu, pembiayaan syariah sangat bagus dalam berbagai kondisi ekonomi.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, pasar syariah tumbuh dengan baik karena lebih fokus pada ritel. "Pasar syariah oke karena lebih banyak ritel. Dan kita mengarahkan syariah harus berbasis lebih banyak kepada ritel, karena ritel akan lebih kuat dan tentunya mencakup umat yang lebih banyak," ucap Wimboh saat ditemui di Badung, Kuta, Bali, Rabu (10/10).

Pasar ritel diketahui memiliki daya tahan baik, hal ini dibuktikan dari pertumbuhan kredit bank secara keseluruhan tumbuh sebesar 12,12 persen. Dan ditargetkan tumbuh 13 persen hingga akhir tahun.

Pasar perbankan syariah diharapkan juga dapat memanfaatkan momentum ini.

Sementara itu, skema pembiayaan syariah juga dinilai tepat dalam memberikan manfaat lebih kepada masyarakat. "Syariah itu selalu tepat dalam kondisi apa saja. Karena mengandalkan moral, batin dan trust sehingga bisa memberikan benefit kepada masyarakat luas, jadi bukan hanya individu," katanya. 

Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Nurhaida menambahkan, upaya lain untuk menjaga agar industri keuangan syariah tidak terdampak oleh gejolak ekonomi global adalah dengan pendalaman pasar keuangan. Instrumen-instrumen keuangan syariah perlu diperbanyak.

"Yang harus kita lakukan adalah terus mendorong agar instrumen yang ada perlu diperbanyak, kemudian hal-hal yang bisa membuat islamic finance menarik harus ditingkatkan," ujar Nurhaida.

Berdasarkan data OJK, pembiayaan bank umum syariah sampai Juli 2018 tumbuh sekitar 4,1 persen secara tahunan atau year on year (yoy) atau sebesar Rp 7,53 triliun. Adapun aset industri perbankan syariah sampai Juli 2018, sebesar Rp 443,03 triliun yang terdiri dari bank umum syariah (BUS), unit usaha syariah (UUS), dan bank perkreditan rakyat syariah (BPRS).

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA