Sunday, 17 Rajab 1440 / 24 March 2019

Sunday, 17 Rajab 1440 / 24 March 2019

Pelaku Usaha Optimistis Indonesia Jadi Pusat Industri Halal

Ahad 24 Feb 2019 08:15 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolanda

Pada JFW 2016 Wardah Cosmetics menjadi riasan resmi ajang mode bergengsi ini.

Pada JFW 2016 Wardah Cosmetics menjadi riasan resmi ajang mode bergengsi ini.

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Industri halal bukan hanya sebagai ajang bisnis, tapi memenuhi kebutuhan umat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri halal tengah menggeliat di ranah global. Tak heran, pelaku industri melihat potensi ini sebagai lahan bisnis. Belakangan, pelaku industri halal berlomba-lomba menawarkan produknya hingga ke mancanegara. Alhasil, pelaku industri mampu meraup keuntungan sekaligus membantu negara mendatangkan devisa.

Salah satunya CEO Wardah Nurhayati Subakat Perkosmi. Dia melihat industri halal di Indonesia cukup mendatangkan potensi yang menjanjikan. 

Baca Juga

“Industri halal di Indonesia cukup potensi. Wardah tumbuh cukup bagus, tetapi saya tidak punya data untuk industri halal yang lain,” ujarnya ketika dihubungi Republika.co.id, Jumat (22/2). 

Industri halal muncul bukan karena sebagai ajang bisnis, tetapi juga hadir karena dibutuhkan oleh umat Muslim. Bahkan, menurutnya untuk produk kosmetika halal ada beberapa produk yang memiliki label halal.

Nurhayati menyakini Wardah mampu menjadi nomor satu kosmetika halal di Indonesia. “Dari data Nielsen tidak keluar brand lain untuk kosmetik Halal. Data yang ada di Nielsen, Wardah, Maybeline, Ponds, Garnier, Viva, Sari Ayu dan Mustika Ratu cenderung turun,” ungkapnya. 

Tak hanya kosmetika, sektor fashion juga mampu unjuk gigi di tengah persaingan industri halal. Salah satunya, hijaber yang merangkap sebagai Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (aktifis muslimah) Syifa Fauzia. 

Menurutnya, Indonesia memiliki pangsa pasar industri halal yang besar, mengingat penduduknya merupakan masyoritas Muslim. “Industri halal ini sendiri harus juga didukung oleh umat Muslimnya supaya dapat menggerakkan ekonomi umat,” ungkapnya. 

Potensi tersebut, lanjut Syifa, para produsen halal harus dapat menangkap industri ini secara baik. Setidaknya, para kreator produk dapat berinovasi dan menciptakan produk, layanan jasa, inovatif kreatif. 

“Nantinya mereka (para kreator) dapat bersaing secara nasional dan global,” ucapnya. 

Dia juga meminta pemerintah dapat mendukung industri ini, dengan memberikan kesempatan bagi para pelaku industri untuk mengembangkan produknya. “Pemerintah dapat memfasilitasi untuk dapat diakses oleh masyarakat. Sekaligus mendorong industri halal dan meningkatkan ekonomi umat,” ungkapnya. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA