Sunday, 14 Jumadil Awwal 1440 / 20 January 2019

Sunday, 14 Jumadil Awwal 1440 / 20 January 2019

Indonesia Targetkan Jadi Tujuan Wisata Halal Medis

Ahad 13 Jan 2019 08:06 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ketua IHEX Burhanudin Hamid memberikan paparannya saat acara Silaturahmi Stakeholders Rumah Sakit Syariah di Rumah Sakit Islam Jakarta, Kamis (8/2).

Ketua IHEX Burhanudin Hamid memberikan paparannya saat acara Silaturahmi Stakeholders Rumah Sakit Syariah di Rumah Sakit Islam Jakarta, Kamis (8/2).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Mukisi dan DSN MUI telah melahirkan sertifikasi RS Syariah Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia menargetkan jadi tujuan wisata halal medis di masa depan. Rumah Sakit Syariah menjadi salah satu modal awal yang sedang dipersiapkan. Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) optimistis dengan tujuan karena Indonesia punya modal mumpuni.

"Wisata halal medis sejatinya sangat potensial untuk Indonesia. Tantangannya adalah membangun kolaborasi berbagai pihak lintas profesi untuk membangun platform industri ini," kata Sekretaris Mukisi, Burhanuddin Hamid Darmadji kepada Republika.co.id, Ahad (13/1).

Mukisi dan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) telah bekerja sama memperkuat potensi dengan melahirkan sertifikasi RS Syariah Indonesia. Burhanuddin mengatakan sertifikasi RS Syariah ini pertama di dunia.

Menurutnya, produk sertifikasi dari DSN MUI tersebut diakui secara internasional. Mukisi berperan dalam mendampingi persiapan Rumah Sakit untuk dinilai oleh tim DSN MUI. Total yang sudah dan sedang berproses sertifikasi ada 31 Rumah Sakit.

"Rumah sakit yang tersertifikasi berasal dari RS Swasta, RSUD Pemerintah & RS milik BUMN," katanya.

Jika dilihat dari aspek pelayanan medis, Burhanuddin optimistis Indonesia siap menjadi destinasi. Namun yang perlu dipastikan adalah integrasi platform wisata halal ini dengan stakeholder yang lain.

"Kedepannya, untuk membangun jaringan lebih solid maka perlu diperjelas bagaimana agar tarif bisa kompetitif. Sementara pajak alat kesehatan dikategorikan sebagai barang mewah. Di Malaysia, pajak alat kesehatannya zero."

Contoh lain adalah infrastruktur transportasi. Jika dibandingkan negara tetangga, Indonesia masih belum terintegrasi. Burhanuddin mengatakan Mukisi memang belum memiliki dan menyusun data potensi wisata halal medis Indonesia, namun untuk pelayanan medis rata-rata sudah terstandarisasi.

"Jika akan menyusun peta itu perlu kolaborasi dengan pariwisata, sekarang kami fokus dulu memperbanyak jaringan RS Syariahnya," kata dia. 

Ketua tim percepatan wisata halal Kementerian Pariwisata, Riyanto Sofyan mengamini bahwa potensi wisata halal medis Indonesia sangat besar. Jenisnya termasuk wisata halal yang memang sengaja dibuat. Disamping itu ada wisata alam dan wisata budaya.

Riyanto mengatakan Indonesia kaya akan ketiganya. Meski wisata halal medis perlu upaya lebih keras untuk mewujudkannya, ia optimis dan sepakat bahwa Indonesia akan menuju ke arah sana.

"Tentu kita akan menggarap itu juga, tapi perlu kolaborasi dan integrasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan," kata dia.

Seperti membangun jejaring perhotelan di sekitar rumah sakit yang telah tersertifikasi syariah. Agar memberi kenyamanan pada pihak keluarga pasien internasional yang menggunakan layanan RS Syariah Indonesia.

Selain itu menyediakan kebutuhan-kebutuhan lain di sekitar titik pusat wisata halal medis. Mulai dari makanan halal, hingga kebutuhan rekreasi. Riyanto mencontohkan jaringan wisata medis di Thailand, Singapura, juga Malaysia yang sudah lebih dulu terbentuk.

Semua RS yang menjadi tujuan medis tersebut telah tersertifikasi internasional melalui akreditasi Joint Commision International (JCI). Riyanto mengatakan Indonesia juga perlu mengarahkan ke sana, karena targetnya adalah mancanegara jadi standarnya pun harus internasional.

"Contoh yang berhasil itu Bumrungrad Hospital di Thailand yang telah terakreditasi internasional JCI. Baik konvensional maupun syariahnya, jadi banyak Muslim yang ke sana," kata dia.

Dari segi harga pun sangat bersaing. Bumrungrad lebih murah dan berkualitas jika dibandingkan dengan RS di Singapura maupun Malaysia. Indonesia juga sudah memiliki sejumlah RS standar internasional yang mumpuni tinggal mengantongi sertifikat RS Syariah.

"Karena kita kan targetkan pasien atau wisatawan mancanegara yang bisa mendatangkan devisa," katanya. Selain wisata medis, Riyanto mengatakan Indonesia juga punya potensi dan mengarah pada wisata olahraga.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES