Saturday, 16 Rajab 1440 / 23 March 2019

Saturday, 16 Rajab 1440 / 23 March 2019

Sektor Mamin Jadi Prioritas Pengembangan Industri Halal

Rabu 19 Dec 2018 12:18 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Dwi Murdaningsih

Beberapa produk makanan dan minuman (mamin) Indonesia yang  ditampilkan dalam pameran produk mamin terbesar di dunia, Salon  International d’Alimentation (SIAL) di Paris, Prancis pada 21-25 Oktober.  Dokumentasi Biro Humas Kementerian Perdagangan

Beberapa produk makanan dan minuman (mamin) Indonesia yang ditampilkan dalam pameran produk mamin terbesar di dunia, Salon International d’Alimentation (SIAL) di Paris, Prancis pada 21-25 Oktober. Dokumentasi Biro Humas Kementerian Perdagangan

Foto: Republika/Adinda Pryanka
Sektor mamin tumbuh di atas rata-rata industri nasional.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Bappenas Bambang Brodjonegoro menilai makanan dan minuman merupakan sektor dengan potensi paling besar untuk dikembangkan sebagai prioritas industri halal. Salah satunya karena sektor ini memiliki pertumbuhan 8,67 persen, melebihi pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,17 persen pada kuartal ketiga tahun ini.

Selain itu, Bambang menambahkan, sektor makanan dan minuman sudah memiliki infrastruktur manufaktur yang maksimal, sehingga untuk pengembangannya cenderung lebih mudah. "Tugas kita sekarang, tinggal positioning sebagai net exportir dan menyatakan secara tegas bahwa kita siap di pasar global," kata dia, dalam acara Halal Value Chain Forum di Manhattan Hotel, Jakarta, Selasa (18/12).

Setelah makanan dan minuman, sektor lain yang juga berpotensi adalah fashion, kosmetik dan travel. Tapi, untuk berkembang ke sektor lain, Bambang mengakui butuh waktu yang lama. Sebab, Indonesia masih berada di posisi importir.

Bambang menambahkan, pasar konsumen global untuk sektor makanan halal sendiri menunjukkan proporsi yang besar. State of Global Islamic 2018 menunjukkan, total konsumsi makanan halal global mencapai 817 miliar dolar AS. Dalam hal ini, Indonesia mengambil persentase besar, yakni hingga 87 persen atau sekitar 170 miliar dolar AS.

Bambang menilai, besarnya angka konsumsi makanan halal tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan. Sebab, Indonesia belum masuk ke lima besar produsen makanan halal. "Dengan jumlah masyarakat Muslim yang besar, seharusnya Indonesia berpotensi menjadi pasar yang kini seharusnya beralih sebagai produsen juga," ujarnya.

Bambang menambahkan, urgensi Indonesia sebagai produsen makanan halal kini terbilang tinggi. Salah satunya dikarenakan jumlah masyarakat Muslim dunia yang terus meningkat, yakni dari 1,84 miliar pada 2017 menjadi 2 miliar jiwa pada 2030.

Interaksi Sektor Riil dan Keuangan Syariah Dinilai Kurang

Dengan potensi yang besar tersebut, kini negara lain sedang gencar mengembangkan industri halalnya. Dari sisi produsen, Brazil dan Australia merupakan produsen daging halal terbesar global. Sementara Australia fokus pada daging sapi, Brazil dengan daging ayamnya.

Sementara itu, dari sisi distributor, Malaysia dan Inggris telah menetapkan diri sebagai pemain utama distributor makanan olahan. "Hal ini memperlihatkan, tidak harus jadi negara mayoritas Muslim untuk memanfaatkan pasar Muslim. Mereka mampu menangkap peluang itu," ujar Bambang.

Bambang mempertanyakan, Indonesia harus dibawa ke mana. Ia menganjurkan agar Indonesia tidak sekedar menjadi konsumen. Sebab, dengan hanya menikmati produk dari luar negeri, tidak ada nilai tambah yang didapatkan industri maupun masyarakat dalam negeri.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA