Wednesday, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 December 2018

Wednesday, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 December 2018

Literasi Rendah, Stigma Asuransi Syariah Perlu Diubah

Selasa 04 Dec 2018 23:48 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Acara Wisuda dan Seminar Asuransi Syariah di Gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (4/12).

Acara Wisuda dan Seminar Asuransi Syariah di Gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (4/12).

Foto: Republika/Lida Puspaningtyas
Pelaku industri meyakini asuransi syariah tak boleh meniru produk konvensional

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rendahnya literasi dan inklusi asuransi syariah membuat pelaku industri perlu melakukan transformasi dalam sosialisasi. Stigma terkait asuransi syariah dinilai perlu diubah.

Stigma yang melekat di masyarakat adalah asuransi syariah sama dengan konvensional. Direktur Utama PT Takaful Keluarga, Arfandi Arief mengatakan industri asuransi syariah tidak akan bisa bersaing dengan konvensional jika meniru produk-produknya.

"Kita perlu memasyarakatkan 'Oh asuransi syariah memang beda', pelaku industri juga jangan tiru konvensional, citra konven dan syariah yang dianggap sama itu harus dihentikan," kata dia dalam seminar Potensi dan Inovasi Asuransi Syariah, Senin (4/12).

Perbedaan itu harus ditunjukan dan disosialisasikan. Mulai dari sosialisasi sistem yang berbeda, kultur, hingga perilaku pelaku industrinya agar konsumen merasakan perbedaan tersebut. Untuk produk, ia menilai produk yang sudah ada telah sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini.

Hanya saja memang perlu transformasi dalam hal penanganan dan kemudahan sistem yang diarahkan pada digitalisasi. Direktur Teknik PT Asuransi Chubb Syariah Indonesia, Taufik Marjuniadi mengatakan saat ini disrupsi digital tidak bisa dikesampingkan.

"Semua industri harus mengarah ke sana jika tidak ingin ditinggalkan konsumen atau tertinggal oleh kompetitor," katanya.

 

Generasi milenial yang akan menjadi pangsa pasar terbesar sangat bergantung pada sistem yang cepat, mudah dan memungkinkan mereka bereksplorasi lebih. Chubb sendiri, menurutnya, mengarah pada peluang tersebut.

 

Group Head of Policy & Procedure PT Bank Syariah Mandiri, Ana Nurul Khayati mengatakan nilai syariah itu memang ada pada individual masing-masing. Sehingga //ghiroh// untuk menggunakan produk syariah bergantung pada pemahaman pribadi. Namun //ghiroh// itu bisa dibangkitkan dengan sosialisasi.

 

BSM berkomitmen untuk memasyarakatkan asuransi syariah dengan //bundling// produk perbankan atau //bankassurance//. Perbankan menjadi rantai ekosistem yang bisa membantu meningkatkan upaya sosialisasi. Ana mengatakan peluang untuk kerja sama sangat luas.

 

"Perbankan juga perlu diedukasi dan disosialisasikan tentang produk-produk asuransi syariah ini, sehingga kami bisa menyampaikan dengan baik pada nasabah," kata dia. Sejauh ini, asuransi yang lebih banyak digunakan perbankan adalah asuransi konvensional.

 

Ia berharap kedepannya ruang-ruang untuk kolaborasi akan terus diisi. Pasalnya edukasi dan sosialisasi pada masyarakat adalah tugas bersama. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA