Senin 22 Feb 2021 16:36 WIB

Musim Hujan, Kementan Antisipasi Gejolak Harga Cabai

Kementan telah memiliki sistem EWS yang dapat memberikan acuan untuk pola tanam.

Buruh tani memanen cabai rawit di areal persawahan, (ilustrasi). Menghadapi musim hujan Kementan berupaya mengendalikan pasokan dan gejolak harga cabai.
Foto: ANTARA/Syaiful Arif
Buruh tani memanen cabai rawit di areal persawahan, (ilustrasi). Menghadapi musim hujan Kementan berupaya mengendalikan pasokan dan gejolak harga cabai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam kondisi puncak musim hujan dan iklim basah tahun ini, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) memberikan arahan kepada Ditjen Hortikultura untuk mengendalikan gejolak pasokan dan harga cabai yang terjadi pada beberapa hari terakhir, khususnya cabai rawit.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto membenarkan hal tersebut. Saat dihubungi via telepon pada Kamis (18/2) lalu, Anton, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa berbagai program dan kegiatan stabilisasi pasokan dan harga telah dilakukan oleh Ditjen Hortikultura.

Baca Juga

“Kami sampaikan bahwa berbasis Early Warning System (EWS) aneka cabai yang kita susun hingga lima bulan ke depan memang menunjukkan terjadinya penurunan surplus pada bulan Februari, namun akan kembali meningkat surplusnya di akhir Maret. Selanjutnya, diprediksi akan terjadi panen raya di bulan April sampai Juli,” papar Anton.

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Anton, terkait penjagaan ketersediaan, Kementerian Pertanian (Kementan) telah memiliki sistem EWS yang dapat memberikan acuan untuk pola tanam. Data EWS tersinkronisasi ke seluruh provinsi di Indonesia yang datanya langsung dari tingkat kecamatan.

Saat ini memang terdapat kondisi yang tidak mampu dikendalikan, yakni faktor alam dan tingginya curah hujan yang terjadi sejak Desember atau fenomena la nina. Tingginya curah hujan tidak dapat dipungkiri berpengaruh pada proses produksi cabai maupun distribusinya dari wilayah produsen ke wilayah konsumen.

“Hujan juga menyebabkan banjir di beberapa wilayah sentra dan jalur distribusi. Salah satunya di Kabupaten Malang, Lumajang, Nganjuk dan Probolinggo. Lahan cabai di daerah tersebut tergenang akibat hujan yang tidak berhenti sejak Ahad (14/2) malam,” tambah Anton.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement