Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Ombudsman RI Sarankan Bulog Dibubarkan

Kamis 27 Jun 2019 12:26 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Nidia Zuraya

Perum Bulog

Perum Bulog

Bulog dinilai berpotensi merugikan keuangan negara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Ombudsman RI Alamsyah Saragih menyarankan Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk dibubarkan. Ia menganggap kehadiran Bulog tidak lagi efektif dalam upaya penurunan harga sembilan bahan pokok (sembako). Ia merasa Bulog sebaiknya menjadi perseroan terbatas (PT) saja agar bisa menaikkan profit.

Baca Juga

"Bulog bisa saja ditiadakan untuk jadi perusahaan berupa PT murni, tapi peran stabilator (harga) harus ada," katanya pada wartawan dalam konferensi pers pada Kamis, (27/6).

Ia menduga Bulog malah merugi hingga berpotensi merugikan keuangan negara. Selama ini, komoditas yang sudah dibeli Bulog justru sebagian besar tak distribusikan. Alhasil, komoditas itu malah membusuk di gudang.

"Saya lihat gradasinya turun Bulog penerimaannya. Mereka masih konvensional alatnya. Setelah disuruh serap tapi penyaluran nggak bisa, lalu bisa busuk. Ini harus dipikirkan," ujarnya.

Ia menyarankan agar Bulog punya kebijakan yang lebih inovatif dalam menyikapi permasalahan. Sehingga Bulog bisa beradaptasi karena masalahnya cenderung serupa tiap tahun. Salah satunya, stok gudang turun kualitasnya karena tak bisa dijual.

"Apa stok beras boleh digunakan biar jadi tepung? jangan sampai Bulog dianggap musnahkan barang negara. Pilihan operasi pasar nggak tepat karena banting harga kalau lagi harga beras lagi nggak tinggi," ucapnya.

Ia memprediksi Bulog akan tak bisa lagi beroperasi jika tak ada evaluasi dan perbaikan. Khususnya ketika Bulog terlalu banyak menyerap komoditas tapi tak mampu menjualnya.

"Bisa bangkrut karena pengadaan terus tapi nggak ada output. Di gudang saja. Kalau 2-3 tahun ke depan maka Bulog hancur," tuturnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA