Kamis, 21 Zulhijjah 1440 / 22 Agustus 2019

Kamis, 21 Zulhijjah 1440 / 22 Agustus 2019

Pemerintah Diminta Kendalikan Suplai Ayam

Selasa 25 Jun 2019 16:57 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Friska Yolanda

Peternak memberikan pakan pada ayam boiler di Kampung Cipedes, Desa Cipanjalu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (27/5/2019).

Peternak memberikan pakan pada ayam boiler di Kampung Cipedes, Desa Cipanjalu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (27/5/2019).

Foto: Antara/Raisan Al Farisi
Suplai ayam bisa dikurangi dengan mengurangi telur yang ditetaskan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia Singgih Januratmoko mengatakan salah satu penyebab anjloknya harga ayam ditingkat peternak karena adanya oversuplai. Mestinya, pemerintah selaku regulator dan pengawas bisa melakukan pengendalian dari supply pasokan ayam.

"Anjloknya harga ayam peternak karena overstok di ayam hidup. Hasil produksi antara perusahaan integrated dengan peternak mandiri di jual dalam segmen yang sama yaitu ayam hidup. Harusnya perusahaan integrated menjual dalam bentuk frozen, olahan atau ekspor," ujar Singgih saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (25/6).

Baca Juga

Tak hanya menjaga suplai dengan melihat kondisi pasokan peternak, pemerintah juga diharapkan bisa menjaga pengaturan suply day old chicken (DOC) dan mengatur segmentasi pasar. "Pinsar meminta agar pemerintah bisa melakukan pengaturan suplai DOC dan segmentasi pasar. Harapannya semoga harga ayam hidup bisa naik," ujar Singgih.

Wakil Ketua Komite Tetap Industri Pakan dan Veteriner Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sudirman mengatakan harga ayam akan kembali normal apabila pemerintah menjalankan fungsinya untuk melakukan pengaturan dan pengendalian suplai. Sudirman menilai pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) punya kewenangan untuk melakukan pengendalian melalui Permentan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Pengedaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Ketika harga jatuh karena kelebihan pasokan seperti yang terjadi saat ini, Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan bisa memerintahkan untuk mengurangi pasokan. "Misalnya mengurangi telur yang ditetaskan menjadi DOC FS broiler, sehingga suplai ayam bisa berkurang dan harganya tidak jauh," kata Sudirman, Selasa.

Harga ayam di tingkat peternak saat ini sedang anjlok drastis. Bahkan di sejumlah wilayah harga ayam ras (live birth) di harga sekitar Rp 6.000 per kilogram (kg). Padahal Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 96 tahun 2018 tentang Harga Baru Acuan Telur Ayam dan Daging Ayam disebutkan harga telur dan daging ayam di tingkat peternak sebesar Rp 18.000 - Rp 20.000 per kilogram (kg).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA