Jumat, 22 Zulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019

Jumat, 22 Zulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019

Cara Start-up Tani Jaga Stabilitas Harga Ayam

Kamis 20 Jun 2019 16:53 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nidia Zuraya

Pedagang melayani pembeli ayam potong di Pasar Minggu, Jakarta, Senin (15/4).

Pedagang melayani pembeli ayam potong di Pasar Minggu, Jakarta, Senin (15/4).

Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Harga daging ayam ras rata-rata berada di kisaran Rp 26.750-Rp 41.050 per kg

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sejak H+1 Lebaran, terjadi disparitas harga ayam di tingkat peternak dengan di konsumen. Diketahui, harga ayam di tingkat peternak tergolong anjlok meski hal sebaliknya justru terdapat kenaikan harga ayam di pasaran.

Baca Juga

Di tengah pergerakan harga yang fluktuatif tersebut, sejumlah start-up membeberkan strategi mereka dalam menjaga stabilitas harga. CEO sekaligus Founder Etanee Cecep Mahyudin mengatakan, pihaknya menerapkan tiga kategori harga guna melindungi harga di tingkat peternak di satu sisi, dan di tingkat konsumen di sisi lain.

Sehingga apabila terjadi fluktuasi harga yang berbahaya, dia menyebut, Etanee tidak terlalu terkena imbas yang berarti. “Etanee memang diciptakan untuk membantu jaga stabilitas harga, nah di sinilah porsi kita bekerja,” kata Cecep saat dihubungi Republika, Kamis (20/6).

Ketiga kategori harga yang dimaksud berada di kategori harga terendah sebesar Rp 29 ribu per kilogram (kg), harga menengah Rp 24 ribu-Rp 25 ribu per kg, dan harga tertinggi berada di kisaran Rp 32 ribu-Rp 34 ribu per kg di tingkat konsumen. Menurut dia, ketiga harga tersebut dapat diterapkan sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada.

Dengan ketiga kategori harga yang ditetapkan, pihaknya sudah menghitung secara akurat asumsi harga beli di tingkat peternak. Jika harga ayam di tingkat peternak anjlok misalnya, kata dia, Etanee memastikan akan membeli ayam-ayam tersebut dengan harga tak kurang dari Rp 18.500 per kg sesuai dengan harga acuan yang ditentukan pemerintah.

Sebaliknya, jika harga ayam di tingkat peternak sedang merangkak naik, Etanee tidak menjual ayam ke konsumen dengan harga yang tinggi. Caranya, kata dia, Etanee melakukan kesepakatan di awal dengan peternak yang menjamin bahwa apabila terdapat gejolak harga di sektor peternakan, kedua pihak tetap berkomitmen menjaga harga tetap stabil.

“Jadi kami punya jaminan satu sama lain, kepercayaan begitu. Sehingga ada kepastian, di kala harga naik di pasaran, di Etanee harga normal. Kalau di peternak harga ayam lagi rendah, peternak yang kerja sama dengan kita tetap kita beli dengan harga yang sesuai harga acuan,” kata Cecep.

Cecep melanjutkan, dari 12 ribu pengguna aplikasi Etanee, terdapat sekitar 25 persen pengguna aktif yang berbelanja di platform tersebut. Dari jumlah itu, kata dia, total penjualan ayam Etanee sudah mencapai 2 digit tonase berkisar 20-30 ton per bulan. Dia menyebut, ayam yang dijual di Etanee merupakan daging ayam jenis beku.

CEO Chick N Tea Agung Wibowo mengatakan, untuk mengantisipasi harga ayam yang bergejolak, pihaknya kerap ditawarkan kerja sama kontrak berjangka pangang dengan perusahaan Rumah Potong Hewan (RPH). Sebab, kata dia, pada umumnya harga ayam di RPH kerap mengikuti pergerakan harga yang terjadi di tingkat peternak.

“Ya jadi kalau harga di peternak lagi tinggi, kita beli ayam karkasnya juga tinggi. Sebaliknya, kita juga begitu. Saat ini kita beli di kisaran harga Rp 28 ribu-Rp 30 ribu per kg,” kata Agung.

Berdasarkan catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga daging ayam ras pada 20 Juni 2019 rata-rata berada di kisaran harga Rp 26.750-Rp 41.050 per kg di tingkat konsumen akhir. Adapun harga daging ayam ras terendah rata-rata berada di wilayah sentra produksi seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sebelumnya diketahui, beberapa hari terakhir ini peternak kembali mengeluhkan harga ayam yang semakin anjlok. Di wilayah perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur, harga ayam di tingkat peternah sampai menyentuh Rp 7.000-Rp 8.000 per kg.

Harga tersebut disebut merugikan peternak karena sangat berada jauh di harga pokok produksi (HPP) yang biasa dikeluarkan peternak mandiri berkisar Rp 14 ribu per kg. Peternak mengeluhkan, kondisi ini terjadi lantaran adanya permainan di sektor rantai pasok dan pemasaran yang dikuasai oleh perusahaan peternak terintegrasi (integrator).

Anjloknya harga di tingkat peternak justru tak berbanding lurus dengan harga di tingkat pasar. Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahya Widayanti mengakui terdapat disparitas harga ayam di tingkat peternak dengan pasar.

Sambil memberikan instruksi kepada sejumlah pihak meliputi Satuan Tugas (Satgas) Pangan dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Tjahya mengimbau kepada para peternak termasuk meliputi integrator, peternak mandiri, dan peternak Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar membagikan ayam karkas secara gratis kepada masyarakat dengan menggunakan dana CSR.

“Nanti pelaksanaannya akan dikoordinasikan dengan dinas yang membidangi fungsi peternakan,” kata Tjahya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA