Selasa, 20 Zulqaidah 1440 / 23 Juli 2019

Selasa, 20 Zulqaidah 1440 / 23 Juli 2019

688 Hektare Lahan Pertanian di Sukabumi Terancam Kekeringan

Ahad 16 Jun 2019 14:19 WIB

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Gita Amanda

Seorang petani menyiram lahan pertaniannya. (ilustrasi)

Seorang petani menyiram lahan pertaniannya. (ilustrasi)

Foto: Antara/Wahyu Putro A
Musim kemarau mulai berdampak pada lahan pertanian di Kabupaten Sukabumi.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Musim kemarau mulai berdampak pada lahan pertanian di Kabupaten Sukabumi. Di mana ada ratusan hektare areal persawahan di lima kecamatan yang terancam kekeringan.

"Dari data yang dihimpun ada seluas 688 hektare lahan pertanian yang terancam kekeringan,'' ujar Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sukabumi Sudrajat kepada Republika.co.id, Ahad (16/6). Lahan yang terancam kekeringan itu tersebar di lima kecamatan terutama di wilayah selatan Sukabumi.

Baca Juga

Data sementara luas terancam kekeringan kata Sudrajat yakni Kecamatan Ciemas 409 hektare, Pabuaran seluas 180 hektare, Simpenan 56 hektare. Selain itu Kecamatan Surade seluas 26 hektare dan Cibitung seluas 17 hektare.

Lahan yang terancam kekeringan ini, ungkap Sudrajat, sudah mendapatkan penanganan dan bantuan dari pemerintah. Terutama dengan bantuan pompanisasi untuk daerah yang masih terdapat sarana air.

Sudrajat menuturkan, petugas di lapanhan terus memantau perkembangan lahan yang terancam kekeringan. Hal ini untuk mencari solusi untuk menanganinya.

Sehingga kata Sudrajat lahan pertanian yang terancam kekeringan dapat terselamatkan. Harapannya tidak ada lahan yang gagal panen atau puso. Hal ini dapat mencegah kerugian yang dialami petani akibat gagal panen.

Sudrajat menuturukan, pada momen kemarau sebaiknya petani memang beralih ke tanaman palawija. Apalagi, Pemkab Sukabumi juga tengah serius melakukan pengembangan kawasan buah-buahan.

Misalnya tanaman pisang yang dipusatkan di selatan Sukabumi terutama di sekitar kawasan Geopark Ciletuh atau Pajampangan. Selain itu jenis buah lainnya seperti semangka di daerah tertentu.

Pemeliharaan komoditas tanaman buah-buahan ini tutur Sudrajat, harus dilakukan dengan baik. Terutama dari ancaman serangan hama atau Organisme Penganggu Tanaman (OPT).

Sudrajat menerangkan, pemerintah berharap pengembangan kawasan buah-buahan ini dapat menjadikan Sukabumi sebagai sentra penghasil buah-buahan nasional. Apalagi, selama ini buah-buahan dari Sukabumi sudah dipasok untuk memenuhi kebutuhan daerah lain.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Surade H Sahlan menuturkan, petani mayoritas sudah beralih menanam tanaman palawija seperti semangka. ''Peralihan ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak kekeringan akibat kemarau yang mulai terasa di selatan Sukabumi,'' kata dia.

Di mana bila tetap menanam padi dikhawatirkan akan kesulitan mendapatkan pengairan. Terlebih lanjut Sahlan, mayoritas lahan pertanian di selatan termasuk sawah tadah hujan. Dalam artian lahan tersebut sangat mengandalkan guyuran hujan untuk mengairi areal persawahan.

Sehingga, kata Sahlan, sejak awal puasa petani sudah menanam palawija khususnya semangka. Tanaman semangka lebih sedikit membutuhkan pasokan air bila dibandingkan dengan padi.

Selain karena faktor cuaca sambung Sahlan, petani menilai jenis buah-buahan akan menjadi incaran pada saat bulan Ramadhan yang baru lalu tersebut. Pada momen itu permintaan buah-buahan meningkat dan hal ini menguntungkan para petani.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA