Kamis, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Kamis, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Baru Awal Panen, Harga Gabah Sudah Anjlok Tajam

Selasa 26 Mar 2019 16:57 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Friska Yolanda

Ilustrasi panen padi

Ilustrasi panen padi

Foto: ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko
Panen raya diperkirakan baru berlangsung pada pertengahan April 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Belum lagi memasuki musim panen raya, harga gabah petani sudah anjlok tajam. Di Kabupaten Banyumas, harga gabah kering giling saat ini hanya dihargai Rp 5.000 per kg. Sedangkan untuk gabah kering panen, hanya dihargai Rp 4.000 per kg.

Harga ini merosot drastis dibanding posisi awal Maret 2019 lalu, yang masih bertahan di kisaran Rp 6.000 per kg untuk gabah kering giling. "Nasib petani memang selalu seperti ini. Saat sudah tidak punya gabah harga melonjak, saat menjelang panen langsung anjlok," jelas Sono (55), petani warga Desa Pegalongan Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas, Selasa (26/3).

Dia menyebutkan, saat ini wilayah Kabupaten Banyumas dan kabupaten sekitarnya seperti Cilacap, Banjarnegara dan Purbalingga, belum memasuki musim panen raya. Sudah ada beberapa kawasan yang panen, namun kebanyakan belum panen.

"Panen raya kami perkirakan baru akan berlangsung sekitar pertengahan April 2019 hingga Mei 201. Namun belum lagi memasuki panen raya, harga sudah anjlok sangat jauh dibanding dua pekan sebelumnya," jelasnya.

Dia memperkirakan, pada saat musim panen raya nanti, harga gabah akan lebih anjlok lagi. Bahkan dia menyebutkan, harga gabah bisa dibawah Harga Patokan Pemerintah (HPP). "Sepertinya, petani memang tidak boleh mendapat harga yang baik untuk hasil panennya. Pada saat paceklik, harga gabah menjulang tinggi. Pada saat petani panen, harga gabah anjlok," katanya.

Masa awal panen ini, juga berlangsung di Kabupaten Cilacap. Namun di beberapa daerah kabupaten ini, nasib petani lebih naas lagi. Tingginya curah hujan dan angin kencang, menyebabkan tanaman padi yang menjelang panen menjadi roboh dan terendam air. Gabah yang dipanen dalam kondisi terendam air, otomatis menurunkan kualitasnya sehingga dihargai sangat rendah oleh pedagang.  

Hadi Sunarto (45), petani di wilayah Kroya Kebupaten Cilacap, mengaku gabah yang dipanen dalam kondisi terendam air menyebabkan gabah menjadi berjamur dan banyak terdapat bintik hitam. Dengan kualitas gabah seperti ini, pedagang hanya mau membeli gabahnya dengan harga Rp 3.000 per kg dalam kondisi basah.

Dia mengaku, produksi gabah pada musim tanam kali ini sebenarnya relatif cukup baik dibanding masa tanam sebelumnya. Namun curah hujan yang tinggi pada masa menjelang panen, justru menghapus harapan petani untuk mendapat hasil panen lebih baik. 

"Ya memang beginilah nasib petani. Kalau tidak terserang hama atau rusak akibat cuaca, seringkali petani harus menerima kenyataan gabah hasil panenya dihargai murah," katanya. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA