Thursday, 13 Sya'ban 1440 / 18 April 2019

Thursday, 13 Sya'ban 1440 / 18 April 2019

Dubes Uni Eropa Bantah Diskriminasikan Sawit Indonesia

Rabu 20 Mar 2019 22:06 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Dwi Murdaningsih

Pekerja melansir Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Pekanbaru, Riau, Rabu (20/3/2019).

Pekerja melansir Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Pekanbaru, Riau, Rabu (20/3/2019).

Foto: Antara/Rony Muharrman
Uni Eropa mengurangi pasokan kelapa sawit untuk bahan bakar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Head of Delegation, Ambassador of the European Union (EU) to Indonesia and to Brunei Darussalam, Vincent Guérend menegaskan bahwa Uni Eropa tidak bermaksud untuk melakukan diskriminasi kepada Indonesia. Langkah pembatasan penggunan CPO, kata Vincent hanya berlaku untuk bahan bakar, biofuel.

Baca Juga

Vincent menjelaskan Uni Eropa dalam hal ini sangat mengerti posisi Indonesia tentang kelapa sawitnya. Diakuinya, dampak dan pengaruh atas eksistensi kelapa sawit bagi Indonesia sangat penting. Ia mengatakan Eropa tidak lantas membuat kebijakan yang akan merusak hubungan kedua negara.

"Kami sangat memahami posisi Indonesia dan betapa pentingnya kelapa sawit bagi Indonesia. Kami juga tidak pernah melarang penggunaan secara besar besaran atau memblokir seluruh produk. Kami hanya memang akan membatasi penggunaan CPO untuk bahan bakar," ujar Vincent di Kantor Kementerian Luar Negeri, Rabu (20/3).

Vincent mengatakan selama ini kebutuhan CPO Eropa selain untuk bahan bakar juga untuk produk makanan dan juga bahan baku kosmetik. Vincent mengatakan Eropa hanya mengurangi porsi bahan bakar saja. Untuk makanan dan bahan baku kosmetik, Eropa masih membuka pasar CPO tersebut.

Vincent juga menjelaskan saat ini Eropa sudah cukup lama menjalin hubungan baik dengan Indonesia dalam perdagangan CPO. Bahkan kata Vincent, Eropa memberikan bebas bea masuk bagi CPO Indonesia. Kebijakan tersebut bahkan tidak diberikan kepada India yang juga menyuplai CPO untuk kebutuhan Eropa.

"(Sebanyak) 65 persen impor CPO kita dari Indonesia dan kami bebaskan bea masuk. Padahal India kami kenakan antara 5 sampai 10 persen. Ini membuktikan bahwa selama ini kami sangat terbuka dengan Indonesia," kata Vincent.

Vincent pun mengatakan bahwa Eropa akan tetap pada pendiriannya untuk tetap akan mengurangi penggunaan CPO untuk bahan bakar. Hal ini kata Vincent karena untuk kepentingan keberlanjutan lingkungan dan masa depan.

"Apa yang ingin kita capai dan saya yakin Indonesia juga adalah sustainability. Pemerintah Indonesia ingin pengembangan palm oil yang berkelanjutan, dan kita menyambut baik denganadanya moratorium, replant, ISPO, sertifikasi dan kita dukung juga," ujar Vincent.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA