Wednesday, 16 Syawwal 1440 / 19 June 2019

Wednesday, 16 Syawwal 1440 / 19 June 2019

Ketua Champion Bawang Merah: Petani Brebes Tangguh

Kamis 14 Feb 2019 20:45 WIB

Red: EH Ismail

Ilustrasi petani bawang merah Brebes, Jawa Tengah.

Ilustrasi petani bawang merah Brebes, Jawa Tengah.

Keuletan dan ketangguhan petani Brebes telah diakui banyak pihak.

REPUBLIKA.CO.ID, BREBES -- Kabupaten Brebes dikenal sebagai sentra terbesar bawang merah di Indonesia. Brebes memberi andil hingga 30 persen dari total produksi nasional yang mencapai 1,4 juta ton lebih. Petani Brebes sangat terkenal ulet dan sangat "minded" dengan bawang merah. Keuletan dan ketangguhan petani Brebes telah diakui banyak pihak.

Terkait pemberitaan seorang petani bernama Subhan yang menangis mengeluhkan harga bawang merah, Ketua Champion Bawang Merah Indonesia, Juwari menyatakan tidak sependapat.

"Subhan itu memang petani, saya tahu sendiri dia petani tulen. Dia juga menanam bawang walau pun tidak banyak. Dia aktif di LSM - LSM lokal di Brebes . Menurut saya beda dengan yang disampaikan Subhan. Petani bawang merah Brebes itu tangguh dan tidak cengeng. Yang penting lagi, jangan dipolitisir,” kata Juwari.

Menurut Juwari, jika harga bawang merah tertekan, hal itu berlangsung tidak lama. Ia menyarankan pedagang besar membantu membeli hasil petani untuk disimpan dan dikeluarkan pada Maret hingga April mendatang. Petani juga dapat menggunakan gudang penyimpanan bawang.

 “Kerja sama dengan industri pengolahan juga perlu ditingkatkan dan terakhir, saya mohon Bulog dan Kemendag dapat membantu menyerap bawang merah petani dan menyimpannya di CAS (controlled atmosphere storage). Semua pihak harus bergerak sama-sama,” ujar Juwari.

Sekjen Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Ikhwan mengamini pernyataan Juwari. Ia menegaskan petani bawang merah Brebes bukan petani bermental cengeng.

"Petani Brebes terkenal tangguh, bukan tipe sekedar ikut-ikutan muncul jika ada bantuan APBN, atau saat harga tinggi lalu ikut nanam. Harga naik maupun turun, untung atau rugi mereka tetap tanam”, ungkap Ikhwan.

Ia menambahkan, petani Brebes bahkan berani ekspansi ke daerah lain seperti Tegal, Majalengka, Pemalang dan Kendal. Saat musim hujan sekalipun, Petani tetap berani tanam bawang merah.

“Naik turun harga bagi petani sudah biasa, toh hal itu tidak hanya terjadi di bawang merah," tutur ikhwan.

Ikhwan menjelaskan, luas panen bulan Januari – Februari di Kabupaten Brebes mencapai 9 ribu hektare. Ia mengakui, luas panen yang begitu besar turut menekan harga di tingkat petani. Selain itu, beberapa daerah panen bersama bulan ini. Dengan demikian, wajar jika harga tertekan.

“Meski sempat tertekan, harga di tingkat petani Brebes saat ini berangsur naik dari Rp. 8 ribu per kilogram menjadi Rp 10 ribu. Harga di Pasar Induk Kramat Jati Rp. 13 ribu per kilogram. Kami yakin harga akan terus membaik, karena trend nya sudah kelihatan beberapa hari terakhir. Ke depan kami ingin sosialisasi lebih gencar terkait penggunaan TSS untuk efisiensi biaya produksi,” kata dia.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Moh Ismail Wahab mengatakan, budidaya bawang merah sampai saat ini masih menguntungkan. Animo petani untuk tanam bawang merah masih tinggi di berbagai daerah di Indonesia termasuk di Brebes. Artinya tanam bawang merah masih menguntungkan selama bisa diatur pola tanam dan diperbaiki tata cara budidayanya. Efisiensi produksi dengan membuat pupuk organik dan pestisida hayati sendiri akan lebih irit dan tentunya ramah lingkungan.

“Pemerintah sudah melakukan banyak hal mulai dari merancang pola tanam bersama dengan Dinas Provinsi, bantuan benih, bantuan sarana produksi dan penyimpanan, kemitraan industri hingga menetapkan harga acuan pembelian di tingkat petani. Saya yakin usahatani bawang merah akan terus menjadi primadona karena secara umum menguntungkan,” pungkas Ismail.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA