Thursday, 24 Syawwal 1440 / 27 June 2019

Thursday, 24 Syawwal 1440 / 27 June 2019

Moeldoko: Impor Beras Masih Diperlukan

Kamis 20 Sep 2018 14:12 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Nidia Zuraya

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal (Purn) TNI Moeldoko

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal (Purn) TNI Moeldoko

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Bulog menyebut pemerintah tak perlu impor beras lagi hingga Juni 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko menilai pemerintah masih perlu melakukan impor beras saat ini. Menurutnya, penyusutan lahan karena adanya pembangunan menjadi salah satu faktor berkurangnya produksi beras nasional.

"Secara realita kita memang masih perlu impor. Yang pertama ada penyusutan, penyusutan lahan sampai dengan, data terakhir kemarin 24 persen," kata Moeldoko di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Kamis (20/9).

Masifnya pembangunan, baik itu jalan tol, kawasan industri yang dibuka, serta pembangunan kawasan perumahan menyebabkan lahan pertanian berkurang sehingga berpengaruh terhadap produksi beras.

Kendati demikian, lanjutnya, pemerintah melalui menteri pertanian telah melakukan berbagai usaha untuk menggenjot produksi beras. Di antaranya yakni membuka lahan pertanian di luar Pulau Jawa serta dilakukannya intensifikasi pertanian.

"Tapi sekali lagi, bahwa faktor cuaca, faktor hama, dll, sangat memengaruhi produktivitas. Sehingga memang kita masih memerlukan impor," ujar Moeldoko.

Namun, lanjut Moeldoko, impor beras tak boleh dilakukan saat petani sedang memanen. Lebih lanjut, terkait penuhnya gudang Bulog, Moeldoko mengatakan hal itu disebabkan oleh masuknya beras impor dan beras lokal.

Kendati demikian, pasokan beras di gudang Bulog akan terus berkurang untuk memenuhi kebutuhan pasar karena fungsi Bulog sebagai penyeimbang harga pasar. "Jadi kalau Pak Buwas (Dirut Perum Bulog Budi Waseso--Red) mengatakan oh sekarang masih penuh, mungkin minggu depan, dua minggu lagi berkurang karena kebutuhan memenuhi pasar. Jadi itulah kira-kira seperti itu," tambahnya.

Sebelumnya, Mendag Enggartiasto Lukita dan Dirut Perum Bulog Budi Waseso saling melempar pandangan terkait kebijakan impor beras. Budi Waseso menyebut pemerintah tak perlu mengimpor beras hingga Juni 2019 nanti.

Menurut dia, impor beras yang dilakukan pemerintah akan mubazir. Sebab, cadangan beras dan produksi lokal masih cukup untuk memenuhi konsumsi masyarakat. Cadangan beras di gudang Bulog sendiri mencapai 2,4 juta ton.

Jumlah tersebut belum termasuk beras impor yang akan masuk pada Oktober sebesar 400 ribu ton. Sehingga, total cadangan beras Bulog mencapai 2,8 juta ton.

Sementara itu, Mendag Enggar menyampaikan berdasarkan rapat koordinasi yang dilakukan Kemenko Perekonomian, Bulog mempunyai izin kuota impor hingga dua juta ton sepanjang tahun ini.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA