Saturday, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 February 2019

Saturday, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 February 2019

Balai Penelitian Kementan Kembangkan Biodiesel Kemiri Sunan

Rabu 16 Jan 2019 19:11 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Gita Amanda

Ahli Peneliti Utama Bidang Ekofisiologi di Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian mengolah kemiri sunan sebagai bahan baku baru biodiesel.

Ahli Peneliti Utama Bidang Ekofisiologi di Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian mengolah kemiri sunan sebagai bahan baku baru biodiesel.

Foto: Republika/Adinda Pryanka
Komoditas ini dinilai memiliki keunggulan lebih banyak dibanding CPO.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) mengembangkan pemanfaatan bahan bakar diesel dari kemiri sunan. Komoditas ini dinilai memiliki keunggulan lebih banyak dibanding dengan Crude Palm Oil (CPO) yang kini sedang digencarkan pemerintah sebagai biodiesel B20.

Kepala Balittri, Syarafuddin Deden, mengatakan pengembangan kemiri sunan sebagai bahan baku biodiesel sudah dilakukan sejak lima tahun terakhir. "Kami optimistis dengan peluang kemiri sunan sebagai biodiesel," ujarnya ketika ditemui di Kantor Balittri di Parungkuda, Sukabumi, Rabu (16/1).

Optimisme tersebut disampaikan karena sudah ada pihak swasta yang berkolaborasi. Tanpa menyebutkan nama perusahaan, Deden menjelaskan, mereka sudah melihat kemiri sunan sebagai sebuah komoditas yang menguntungkan. Pihak swasta ini telah membuka ribuan hektare perkebunan kemiri sunan di lahan bekas tambang di Nusa Tenggara Timur (NTT).

photo

Kemiri sunan yang akan diolah menjadi biodiesel.

Deden menjelaskan, Balittri tidak fokus pada memproduksi benih melainkan pada proses pengolahan kemiri sunan menjadi biodiesel. Pihaknya sudah menghasilkan alat pengolahan dan penyulingan yang telah mendapat hak paten.

Apabila dikembangkan secara intensif bersama perusahaan swasta lain, Deden optimistis, kemiri sunan dapat menjadi alternatif dari kelapa sawit sebagai biodiesel. Menurutnya, pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah pernah berkunjung untuk mempelajari sistem pengolahannya.

"Kalau kita mau concern dengan biofuel, kita harus mulai kaji banyak bahan baku dari sekarang seperti Brasil," ujarnya.

Kekuatan kemiri sunan sudah pernah teruji saat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan roda empat saat touring dari Bogor sampai Malang. Menurut Deden, kendaraan dapat melaju dengan performa yang maksimal.

Agar dapat semakin mengembangkan kemiri sunan, Balittri telah mengajukan diri untuk ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) ke Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Pada tahun ini, Balittri akan mendapat pembinaan dan diharapkan bisa resmi ditetapkan pada 2020.

Deden menyebutkan, salah satu keunggulan utama dari kemiri sunan adalah variasi produk sampingan atau turunannya. Hanya saja, Balittri sebagai badan pemerintahan memiliki keterbatasan untuk menjual produk tersebut secara langsung. "Oleh karena itu, kami berharap, ada pihak swasta yang dapat bekerja sama untuk mengembangkannya," ucap Deden.

Ahli Peneliti Utama Bidang Ekofisiologi di Balittri, Dibyo Pranowo, mengatakan, setidaknya sudah ada 21 bahan baku yang sudah diujicobakan sebagai biodiesel di Balittri. Di antaranya adalah kemiri sunan yang dikembangkan menjadi empat varietas. Seluruhnya berasal dari jenis yang sama, tapi mendapat perlakuan penanaman berbeda.

Dibanding dengan bahan baku lain, Dibyo menyebutkan, kemiri sunan merupakan komoditas unggulan yang dapat dimanfaatkan sebagai biodiesel. Apabila dibuat peringkat berdasarkan sisi ekonomis, kemiri sunan berada di posisi kedua setelah kelapa sawit.

Dari 100 kilogram bahan baku kelapa sawit, lebih dari 50 kilogram biodiesel dapat dihasilkan. Sedangkan, untuk kemiri sunan, sekitar 48 kilogram biodiesel dapat dihasilkan dari 100 kilogram bahan baku. "Memang keduanya tidak berbeda jauh," ucap Dibyo yang sudah meneliti kemiri sunan sejak 2005.

Tapi, Dibyo menjelaskan, kemiri sunan memiliki banyak keunggulan dibanding dengan kelapa sawit. Khususnya, tidak harus bersaing dengan pangan karena memiliki kandungan venom atau racun yang tidak memungkinkan untuk diolah sebagai bahan makanan. Karakteristik ini memungkinkan olahan kemiri sunan dapat difokuskan 100 persen untuk biodiesel.

Keunggulan lain adalah kemiri sunan dapat berguna sebagai tanaman konservasi. Diversifikasi produknya pun tinggi, dari sabun, cat hingga produk kosmetik. Produktivitas kemiri sunan juga terbilang tinggi, yakni tujuh ton per hektare per tahunnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA