Rabu, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 Desember 2018

Rabu, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 Desember 2018

Kementan Gandeng Peternak Kendalikan Resistensi Antimikroba

Ahad 18 Nov 2018 13:29 WIB

Red: EH Ismail

Kasubdit Pengawas Obat Hewan, Kementerian Pertanian Ni Made Ria Isriyanthi.

Kasubdit Pengawas Obat Hewan, Kementerian Pertanian Ni Made Ria Isriyanthi.

Penggunaan antibiotik dosis tinggi percepat perkembangan resistensi antimikroba

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menggandeng peternak yang tergabung dalam Pinsar Petelur Nasional (PPN) Cabang Jawa Timur, Pinsar Indonesia Cabang Jawa Timur dan Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN), serta Komunitas Peternak Ayam Indonesia untuk mendukung upaya pengendalikan resistensi antimikroba.

Kasubdit Pengawas Obat Hewan, Kementerian Pertanian Ni Made Ria Isriyanthi mengatakan, peternak merupakan subyek pengguna antibiotik untuk ternak. Penggunaan dalam dosis tinggi berkontribusi mempercepat perkembangan dan penyebaran resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR) kepada keluarga dan masyarakat.

Menurut Ni Made Ria, penggunaan antimikroba saat ini mengkhawatirkan. Hal tersebut terlihat dari hasil survey penggunaan antimikroba (antimicrobial usage / AMU) yang dilakukan Kementerian Pertanian dan FAO Indonesia pada 2017 di tiga provinsi sentra produksi ungags. Wilayah itu adalah Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

“Hasilnya cukup mencengangkan, 81.4% peternak menggunakan antibiotik pada unggas untuk pencegahan, 30.2% peternak menggunakan antibiotik untuk pengobatan, serta masih ada 0.3% yang menggunakan untuk pemacu pertumbuhan,” kata Ni Made Ria dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id.

Melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 14/2017, ujar Ni Made Ria, pemerintah telah melarang penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (Antibiotic Growth Promotor/AGP) pada pakan ternak yang efektif berlaku per Januari 2018. Upaya ini dilakukan untuk mengendalikan penggunaan antibitiok pada sektor peternakan, sekaligus mendorong para peternak menghasilkan produk yang sehat untuk masyarakat.

Lebih lanjut Ni Made Ria Isriyanthi mengatakan, peternak harus mulai bisa menerapkan biosekuriti tiga zona dan beternak dengan bersih, termasuk melakukan vaksinasi dengan tepat. Tujuannya, agar unggas lebih sehat dan produktif, jauh dari penyakit dan infeksi.

“Antibiotik tetap diizinkan untuk digunakan untuk tujuan terapi dan diberikan dengan resep dokter hewan, serta di bawah pengawasan dokter hewan,” tutur Ria.

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, Tri Satya Putri Naipospos mengatakan, pada 2010 Indonesia merupakan negara nomor lima pengkonsumsi antibiotik tertinggi di dunia. Tanpa adanya upaya pengendalian,  posisi ini dapat menanjak menjadi posisi ke-4 pada 2030.

“Apalagi populasi ternak kita cukup tinggi, terutama untuk unggas,” kata Tri yang juga komisi ahli Kesehatan Hewan di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.  

Untuk mengganti AGP, Tri Satya menyarankan peternak bisa menggunakan alternatif lain diantaranya: Probiotik, Prebiotik, Asam Organik, Minyak Esensial maupun Enzim.

Sementara itu Komite Pengendali Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan,  Harri Parathon menjelaska, para peternak harus berperan aktif dalam mengendalikan bakteri yang kebal terhadap obat antimikroba. Saat ini obat kolistin sebagai agen terakhir untuk memerangi bakteri yang resisten terhadap antibiotik dilaporkan tidak efektif lagi.

“Makin sering kita minum antibiotik, bakteri makin bermutasi dan menjadi ganas. Demikian juga pada produk unggas yang dapat menyimpan residu lalu masuk ke tubuh manusia ketika dikonsumsi,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, peternak dari Malang, Jarot mengatakan,peternakan ayam broilernya sudah tidak pernah menggunakan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan. Langkah Jarot  disepakati peternak dari Blitar, Yessie.

Pekan Kesadaran Antibiotik 2018.

Kesadaran masyarakat menggunakan antibiotik bijak diperingati setiap tahun di seluruh dunia sebagai Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia (World Antibiotik Awarness Week / WAAW). Tahun ini peringatan tersebut jatuh pada 12-18 November 2018. Kementerian Pertanian bersama dengan FAO Indonesia dan Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) serta pemangku kepentingan lain menggelar serangkain acara pada pekan kesadaran antibiotik di kota Malang, Surabaya dan Lampung.

Selain Sarasehan Peternak yang mengangkat tema “Beternak lebih sehat dan tetap produktif di era bebas AGP sebagai kontribusi pengendalian resistensi antimikroba”, di Malang, kegiatan lainnya yaitu Kuliah Umum di Universitas Brawijaya pada 17 November 2018.

Puncak Festival Pekan Kesadaran Antibiotik yang diselenggarakan serentak di Surabaya dan Lampung. Di Surabaya, festival dirayakan dengan kegiatan jalan sehat, talkshow, lomba mewarnai bagi anak-anak serta lomba penyajian masakan.  Sedangkan di Kota Metro, Lampung, lebih dari seribu peserta mengikuti acara senam pagi, donor darah dan pelatihan parenting.

Para peserta juga menandatangani komitmen bersama untuk menciptakan pangan asal unggas bebas antibiotik dalam acara yang didukung Pinsar Petur Nasional (PPN) Lampung, Dinas Peternakan dan Perkebunan Propinsi Lampung, Pemerintah Kota Metro,  Himpaudi dan IGTKI Kota Metro, PSMTI serta PMI.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA