Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Kementan: Yang Bilang Jagung Tak Surplus Corong Mafia

Jumat 09 Nov 2018 11:20 WIB

Red: EH Ismail

Direktur Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Bambang Sugiharto

Direktur Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Bambang Sugiharto

Produksi jagung dalam negeri tahun ini melebihi kebutuhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Bambang Sugiharto menegaskan produksi jagung dalam negeri tahun ini melebihi kebutuhan sehingga surplus. Pihak yang mengatakan tidak surplus berarti tidak paham hitungan.

“Sederhananya begini, tidak usah pakai data data produksi dari pada diperdebatkan lagi validitasnya. Cukup hitung dari neraca perdagangan ekspor-impor,” kata Bambang di Jakarta, Jumat (9/11).

Bambang menjelaskan, hitungan surplus jagung  sejak Januari-September 2018, Indonesia sudah ekspor jagung 372 ribu ton dikurangi rencana impor 100 ribu ton, jadi 2018 surplus 272 ribu ton. Ditambah lagi dengan menghemat stop impor selama ini sekitar 3,5 juta ton pertahun setara Rp 10 triliun, maka surplus total menjadi 3,77 juta ton setahun.

“Ini rumusnya 372 ribu dikurang 100.000 sama dengan 272 ribu. Ini adalah hitungan sederhana saat pelajaran waktu SD,” jelas Bambang.

Menurut Bambang, orang yang mengatakan tidak surplus kemungkinan antek-antek dan corong mafia yang selama ini diperangi Kementan. “Mereka hanya asbun (asal bunyi) sehingga memperdaya publik,“ ujarnya.

Oleh sebab itu, tegas Bambang, yang perlu diaudit itu yaitu mereka yang sejak awal selalu bilang perlu impor pangan dengan dalih menurunkan harga, tetapi hasilnya salah besar. Ia mencontohkan kasus beras, barang impor yang masuk snamun  tidak mampu menstabilkan harga.

“Beras impor sudah masuk, artinya supplay banyak dan ditambah data BPS surplus 2,8 juta ton, stok beras Bulog kini 2,7 juta ton, stock di PIBC dua kali lipat, tapi harga tak kunjung turun, ini aneh pasti ada mafia bermain. Bahkan kabar burung beredar dalam urusan impor pangan ada fee Rp 2 juta per ton. Aroma bau busuk dan amis ini yang semestinya harus audit,” kata Bambang.

Bambang pun menegaskan Kementan sangat tegas memerangi mafia. Terbukti, hingga saat ini sudah diblacklist 15 perusahaan dan groupnya. “Ya sebentar lagi menyusul tambah blacklist 21 perusahaan lagi,” tegasnya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Sumardjo Gatot Irianto mengaminkan pernyataan Bambang. Menurut Gatot, pengamat yang mengusulkan impor sudah buta hati, sangat licik dalam memahami persoalan yang ada.

"Tidak mengerti jagung surplus. Itu impor jagung 100 ribu sangat kecil,” ujarnya.

Pasalnya, Bulog menyatakan stok 2,7 juta ton. Hal itu terungkap dalam kunjungan Mentan Amran, Dirut Bulog, Kepala Perwakilan BI DKI Jakarta, Kepala Satgas ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Kamis (8/11), Dirut BULOG Budi Waseso menyatakan tidak perlu impor beras.

 “Sampai hari ini kami harus menyewa gudang, Bulog akan sulit mencari gudang untuk menampung beras impor masuk, bahkan bisa jadi tahun depan kita malah ekspor,” kata pria yang biasa disapa dengan sebutan Buwas ini.

Terjadinya anomali harga juga dicermati Ketua Satgas Pangan Pusat Irjen Setyo Wasisto. Dia menegaskan hal ini menjadi tugas utama Satgas Pangan untuk melakukan pengawasan.  “Kita akan lakukan cek di lapangan dan uji laboratorium juga atas kualitas beras yang ada di lapangan,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut Mentan Amran menyatakan akan menindak tegas dan tidak memberi ruang mafia pangan. “Kementan tidak kompromi dengan mafia dan para pemburu rente, titik,” tutur Amran.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES